“Gaza Riviera” bukanlah visi pembangunan, melainkan kamuflase genosida dalam bahasa investasi dan kemewahan. Rencana itu pada dasarnya bertujuan menghapus Palestina dari Gaza, lalu menjual ketiadaan mereka sebagai sebuah “kemajuan”.
Sebuah dokumen yang bocor dari rencana tersebut menunjukkan rencana untuk menempatkan Gaza di bawah perwalian AS selama satu dekade, mengosongkannya dari penduduk Palestina, lalu memasarkan pantai Gaza sebagai pusat wisata dan teknologi. Pondasi dari proyek ini bukanlah pembangunan, melainkan puing-puing kota yang dihancurkan dan kuburan massal warganya.
Sejak awal perang, Netanyahu sudah mengusung visi “Gaza 2035” untuk membangun dari nol dengan syarat Gaza diratakan dan dikosongkan dari penduduknya. Trump kemudian mengadopsi ide ini dalam bentuk proyek GREAT (Gaza Reconstitution, Economic Acceleration, and Transformation). Bagi Israel, narasi ini berfungsi sebagai alat propaganda, genosida diterjemahkan menjadi “persiapan lahan”, pengusiran yang dipoles sebagai “perencanaan kota”, dan pemusnahan diubah menjadi “peluang investasi”.
Namun, para analis menilai rencana ini lebih menyerupai teater politik ketimbang kebijakan nyata. Bagi sayap kanan Israel, impiannya tetap mengembalikan pemukim Yahudi ke Gaza utara, bukan membangun “Dubai” baru di wilayah Mediterania. Sementara itu, bagi Trump dan sekutunya, “Gaza Riviera” hanyalah fantasi politik dengan menjual ide padang pasir yang kembali “mekar” setelah penduduk aslinya disapu bersih.
Pada akhirnya, rencana ini bukanlah proyek perdamaian atau regenerasi, melainkan teater perampasan. Ia menegaskan logika kolonial lama yaitu menjadikan kehidupan manusia sebagai hambatan, dan menjual penghapusan mereka sebagai peluang.
Sumber:
The New Arab








