Israel semakin mengintensifkan serangan ke Kota Gaza sebagai kampanye perang psikologis untuk memaksa hampir satu juta warga meninggalkan kota menuju selatan. Sejak serangan besar dimulai pada 11 Agustus, pasukan Israel menghantam gedung-gedung tinggi, rumah, dan tempat perlindungan, sembari menyebarkan propaganda bahwa tenda, makanan, dan perawatan medis tersedia di wilayah selatan.
Meski menghadapi ancaman pengusiran paksa dan pengeboman tanpa henti, lebih dari satu juta warga Palestina di Gaza bagian utara tetap bertahan di tanah mereka. Dari 1,3 juta penduduk Kota Gaza dan wilayah sekitarnya, hanya sekitar 190.000 yang mengungsi ke selatan, sementara 15.000 orang kembali karena kondisi di “zona aman” seperti Rafah dan al-Mawasi terbukti tak layak huni. Wilayah itu hanya mencakup 12 persen dari Jalur Gaza dan kekurangan kebutuhan dasar seperti rumah sakit, air, listrik, makanan, hingga tempat tinggal.
Pemerintah Gaza menegaskan, Israel sedang berupaya memaksa 1,7 juta orang untuk hidup berjejalan di area sempit, yang pada praktiknya menyerupai “kamp konsentrasi”. Serangan sistematis terhadap bsngunan tinggi, rumah, sekolah, masjid, rumah sakit, hingga tenda pengungsian menunjukkan pola kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menggambarkan bahwa yang jatuh di Gaza “bukan hanya rudal, melainkan bara api yang membakar segalanya.”
Serangan ini berlangsung seiring rencana yang disetujui pemerintah Benjamin Netanyahu pada 8 Agustus untuk secara bertahap menduduki kembali Jalur Gaza, dimulai dari Kota Gaza. Namun, sejumlah pejabat tinggi keamanan Israel, termasuk Kepala Staf Militer Jenderal Eyal Zamir dan pimpinan Mossad serta Shin Bet, memperingatkan bahwa invasi tersebut tidak akan mengalahkan Hamas, namun hanya akan membahayakan tawanan Israel dan semakin menjerumuskan Israel sebagai kekuatan pendudukan.
Meski ada penolakan internal, Israel tetap melanjutkan penghancuran. Dalam beberapa hari, setidaknya 12 gedung tinggi yang menampung 500 unit apartemen dihancurkan, memaksa lebih dari 10.000 orang mengungsi. Serangan juga meluluhlantakkan 120 gedung sedang, 600 tenda pengungsian, 10 sekolah, dan 5 masjid, termasuk merobohkan menara tertinggi Gaza, Al-Ghifari. Secara keseluruhan, lebih dari 3.600 bangunan dan gedung tinggi di Kota Gaza rusak berat sejak serangan Israel dimulai.
Dukungan penuh datang dari Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio berdiri bersama Netanyahu di Al-Quds (Yerusalem), hanya beberapa jam sebelum Israel memulai penghancuran massal gedung-gedung di Kota Gaza. Rubio juga menghadiri upacara pemukim ilegal di terowongan yang digali di bawah Desa Silwan yang lokasinya dekat dengan Masjid Al-Aqsa, menandakan legitimasi politik AS atas langkah Israel. Seorang pejabat AS menegaskan bahwa Washington tidak berencana menahan Israel, meski Presiden Trump berjanji kepada pemilihnya akan “mengakhiri perang Israel di Gaza.”
Pertahanan Sipil Kota Gaza melaporkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal, sementara zona-zona yang disebut “aman” sudah penuh sesak tanpa kemampuan untuk menampung pengungsi baru. Menurut data statistik rumah sakit di Gaza, serangan sejak Jumat telah membunuh sedikitnya 292 warga Palestina. Sejak Oktober 2023, lebih dari 65.000 orang terbunuh di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sementara kelaparan dan penyakit terus meluas.
Sumber:
Qudsnen, MEMO








