Pelapor Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese, memperingatkan bahwa serangan Israel yang terus berlangsung di Kota Gaza bertujuan menjadikan wilayah tersebut tidak layak huni sebagai bagian dari rencana pembersihan etnis.
Berbicara dalam konferensi pers di Jenewa, Senin (15/9) Albanese menegaskan bahwa posisi pasukan ofensif Israel di pusat perkotaan terbesar di Gaza sama dengan “penghancuran total.” Menurutnya, serangan itu tidak hanya akan menghancurkan kehidupan rakyat Palestina, tetapi juga membahayakan para tahanan Israel yang masih berada di Gaza.
Ia menjelaskan, serangan terhadap Kota Gaza telah memaksa ratusan ribu orang mengungsi. “Israel menggunakan senjata tidak konvensional untuk memaksa sekitar 800.000 warga Palestina yang mencari perlindungan di sana agar pergi. Mengapa? Karena ini adalah bagian terakhir dari Gaza yang harus dibuat tak layak huni sebelum melanjutkan pembersihan etnis di wilayah tersebut. Setelah itu, kemungkinan mereka akan beralih ke Tepi Barat,” ujarnya.
Albanese menekankan bahwa serangan ini bukan soal merebut wilayah, melainkan menghapus kelayakan hidup bagi penduduknya. “Ini sudah terjadi. Bukan peristiwa masa depan yang tidak pasti. Israel telah menghancurkan seluruh lingkungan dan sisa bangunan tempat orang-orang berlindung,” tambahnya.
Ia menyebut operasi tersebut sebagai tindakan “ilegal,” menegaskan bahwa Israel tidak memiliki dasar hukum untuk melanjutkan keberadaan militernya di Gaza. Ia juga merujuk pada pendapat penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) yang mewajibkan Israel membongkar permukiman, menarik pasukan, menghentikan eksploitasi sumber daya Palestina, membayar ganti rugi, serta memfasilitasi kembalinya warga Palestina yang terusir.
Albanese memperingatkan adanya negara-negara yang berusaha mengalihkan perhatian dari kewajiban hukum tersebut, meski ia tidak menyebutkan secara spesifik.
Sejak Oktober 2023, militer Israel terus melancarkan ofensif brutal di Jalur Gaza, membunuh hampir 65.000 warga Palestina. Agresi ini telah meluluhlantakkan wilayah yang kini juga menghadapi ancaman kelaparan.
Sumber:
MEMO, Qudsnen







