Israel kembali meningkatkan serangannya di Gaza. Militer Israel memperkirakan sekitar 850.000 warga Palestina menolak meninggalkan Kota Gaza, meski wilayah itu terus digempur tanpa henti. Ledakan dari serangan udara bahkan terdengar hingga Tel Aviv, yang berjarak 71 kilometer.
Tentara Israel menargetkan rumah dan tenda keluarga pengungsi untuk memaksa mereka pergi. Puluhan warga terpaksa melarikan diri dengan berjalan kaki ke selatan Gaza, namun tidak ada tempat yang aman karena serangan juga menghantam kawasan permukiman dan lokasi pengungsian.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Israel kembali menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut pasukan Israel mencegah distribusi bantuan ke Kota Gaza. Di barat laut kota, rumah-rumah warga juga dihancurkan dengan kendaraan bermuatan peledak. Media Israel, Channel 12, melaporkan serangan akan terus ditingkatkan dalam beberapa hari mendatang.
Di sisi lain, Komisioner Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengecam keras serangan terhadap fasilitas kemanusiaan. Dalam empat hari terakhir, 10 gedung UNRWA di Gaza hancur, termasuk dua klinik dan tujuh sekolah yang menjadi tempat berlindung ribuan pengungsi. “Tidak ada tempat yang aman di Gaza. Tidak ada seorang pun yang aman,” tegas Lazzarini.
Masyarakat internasional hanya bisa menyaksikan saat warga Gaza menghadapi serangan tanpa henti. Lembaga kemanusiaan kembali menyerukan gencatan senjata segera serta pembukaan akses bantuan darurat bagi penduduk sipil yang kian terjebak dalam kondisi mengerikan.








