Wael Al-Dahdouh, kepala biro Al Jazeera di Gaza, menegaskan bahwa pembunuhan jurnalis oleh Israel bersifat direncanakan dan disengaja. Sejak awal perang yang telah berlangsung selama 23 bulan, lebih dari 240 jurnalis Palestina telah terbunuh.
Dahdouh, yang kehilangan beberapa anggota keluarganya, termasuk istri, anak, dan cucunya, mengatakan kepada CNN bahwa klaim Israel yang menyatakan jurnalis yang dibunuh sebagai anggota Hamas adalah tidak berdasar. “Ini adalah pembunuhan yang direncanakan. Awalnya hanya satu atau dua jurnalis yang disasar, kemudian mereka menargetkan kelompok jurnalis,” ujarnya.
Ia menekankan, jurnalis selalu terlihat jelas mengenakan helm dan rompi anti peluru, bekerja di ruang terbuka, sementara drone Israel terus berada di langit. “Mereka tahu persis siapa yang ada di mana, namun lebih dari 250 jurnalis tetap dibunuh. Ini bukan kebetulan,” tambahnya.
Dahdouh menilai Israel hendak membutakan mata dunia, mencegah laporan independen, dan meminimalkan risiko Israel untuk mendapat tekanan internasional. Israel tidak pernah memberikan bukti yang mengakui pembunuhan tersebut, juga menolak penyelidikan internasional.
Sekretaris Jenderal Persatuan Jurnalis Palestina menyebut Gaza sebagai lokasi pembantaian jurnalis terbesar dalam sejarah. Kantor Media Pemerintah Gaza mengecam serangan sistematis terhadap jurnalis, menuntut pertanggungjawaban Israel, serta negara-negara yang dianggap berpartisipasi, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Laporan Reporters Without Borders (RSF) 2025 mencatat hampir 200 jurnalis dan pekerja media terbunuh dalam 18 bulan pertama perang, setidaknya 42 di antaranya terbunuh saat menjalankan tugas. Palestina kini disebut sebagai negara paling berbahaya bagi jurnalis di dunia.
Jurnalis di Gaza terjebak tanpa perlindungan, kekurangan makanan dan air. Sementara itu di Tepi Barat, mereka menghadapi pelecehan rutin, serangan oleh pemukim dan pasukan Israel, serta gelombang penangkapan pasca 7 Oktober, ketika impunitas terhadap kejahatan terhadap jurnalis menjadi aturan baru.
Agresi Israel di Gaza dianggap paling mematikan bagi jurnalis dalam 30 tahun terakhir. Laporan Watson Institute, News Graveyards: How Dangers to War Reporters Endanger the World, menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Gaza telah membunuh lebih banyak jurnalis dibandingkan gabungan Perang Saudara Amerika, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam, perang di Yugoslavia 1990–2000-an, dan perang pasca 9/11 di Afghanistan.
Rata-rata, pada 2023 satu jurnalis terbunuh setiap empat hari; 2024 meningkat menjadi satu setiap tiga hari, sebagian besar adalah jurnalis lokal.
Kelompok advokasi seperti Komite untuk Perlindungan Indonesia (CPJ) menekankan bahwa pembunuhan jurnalis adalah bagian dari pelanggaran HAM yang sistematis oleh Israel. Jodie Ginsberg, pimpinan CPJ, menyatakan perang di Gaza menunjukkan penurunan drastis norma global dalam melindungi jurnalis di zona konflik, serta upaya Israel menutupi investigasi, menyalahkan korban, dan mengabaikan akuntabilitas militer mereka sendiri.
Dahdouh menegaskan, meskipun menghadapi risiko besar, para jurnalis tetap menjalankan tugas mereka secara profesional, menjadi saksi mata kekejaman yang terjadi, dan menolak dibungkam oleh agresi Israel.
Sumber: Palinfo








