Militer Israel membombardir dan menghancurkan Menara Hunian Al-Kawthar di bagian barat Kota Gaza pada Minggu (14/9) lalu, sebagai bagian dari serangan yang menargetkan gedung-gedung tinggi saat pasukan Israel memperluas ofensifnya untuk menduduki kota tersebut, menurut laporan Anadolu.
Saksi mata menyatakan bahwa pesawat tempur menyerang bangunan tersebut tak lama setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi segera bagi penghuni menara dan tenda-tenda di sekitarnya. Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer Israel yang lebih luas, dengan menargetkan bangunan-bangunan tinggi di seluruh Kota Gaza dan memerintahkan warga untuk pindah ke selatan, ke zona “kemanusiaan aman” di Al-Mawasi, Khan Younis, yang menjadi sasaran serangan Israel lebih dari 100 kali, membunuh ratusan warga sipil.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak 11 Agustus, militer Israel telah menghancurkan total 1.600 menara dan bangunan hunian di Kota Gaza, ditambah 13.000 tenda, sehingga lebih dari 100.000 orang kehilangan tempat tinggal. Mayoritas warga Kota Gaza kini terdesak di wilayah barat kota, yang menjadi sasaran konsentrasi dan intensitas pengeboman Israel sejak Jumat lalu.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengungkapkan skala kehancuran yang masif akibat serangan Israel hanya dalam satu minggu sejak Israel menyatakan akan “membuka gerbang neraka” bagi kota ini. Basal menyatakan bahwa infrastruktur penting dan kawasan hunian mengalami kerusakan berat, dan lebih dari 50.000 warga, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia, kehilangan tempat tinggal dalam waktu kurang dari seminggu di tengah memburuknya krisis kemanusiaan.
Basal menjelaskan, 12 gedung hunian, masing-masing lebih dari tujuh lantai dan menampung sekitar 500 apartemen, telah sepenuhnya hancur, menggusur lebih dari 10.000 penghuni. Selain itu, lebih dari 120 bangunan tambahan dengan rata-rata tiga lantai per bangunan juga hancur, menggusur lebih dari 7.200 orang.
Lebih dari 500 bangunan lainnya mengalami kerusakan sebagian, sehingga hampir 30.000 orang kehilangan tempat tinggal. Tidak hanya itu, lebih dari 600 tenda penampungan bagi keluarga yang mengungsi juga hancur, menambah sedikitnya 6.000 warga yang kehilangan tempat tinggal. Kerusakan meluas hingga 10 sekolah dan 5 masjid yang sepenuhnya rata dengan tanah.
Juru bicara Pertahanan Sipil menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan komunitas internasional segera turun tangan untuk menghentikan agresi dan melindungi warga sipil. Ia juga mengimbau organisasi kemanusiaan dan bantuan untuk cepat menyediakan tempat penampungan alternatif serta kebutuhan mendesak seperti makanan, obat-obatan, dan perlengkapan darurat bagi para pengungsi.
Sumber:
Palinfo, MEMO







