Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, memperingatkan bahwa pengungsian paksa warga Gaza City akan memicu runtuhnya sistem kesehatan, terputusnya pasokan medis, serta bencana kemanusiaan dan epidemiologis.
Ia menjelaskan, Israel terus membombardir menara dan rumah-rumah penduduk, membuat ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan dipaksa bergerak ke selatan dalam kondisi pengepungan yang menutup akses pangan dan obat-obatan. Kelaparan dan penyakit pun kian meluas. Dalam 24 jam terakhir, empat warga Palestina meninggal akibat kelaparan, menambah total korban jiwa menjadi 394 orang, termasuk 140 anak.
Al-Bursh juga memperingatkan bahaya wabah mematikan di tempat penampungan yang padat dan minim sanitasi. Hingga kini, tercatat 106 kasus sindrom Guillain-Barré dengan 11 kematian, dan dikhawatirkan akan muncul penyakit menular baru. Sejak agresi dimulai, pasukan Israel telah membunuh 1.671 tenaga kesehatan, menargetkan ambulans, serta menahan dokter dan perawat, sehingga layanan medis berada di ambang kehancuran.
Namun demikian, meski bekerja di bawah tekanan psikologis yang berat, para tenaga medis Gaza memilih bertahan. Al-Bursh menegaskan, melalui protes “Pawai Kain Kafan,” warga Gaza menunjukkan tekad untuk tetap tinggal di tanah mereka meski berisiko mati.
Peringatan ini datang di tengah serangan Israel yang terus menghancurkan menara atau gedung-gedung permukiman di Kota Gaza. PBB dan lembaga internasional khawatir gelombang pengungsian baru akan memicu keruntuhan total sistem kemanusiaan Gaza. Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan langsung AS, Israel telah melakukan genosida yang membunuh lebih dari 64.000 warga Palestina, melukai 163.000, serta mengusir ratusan ribu lainnya, sementara blokade telah menciptakan kelaparan yang merenggut ratusan nyawa, termasuk anak-anak.
Sumber:
Palinfo







