Sebuah investigasi BBC mengungkap bahwa perusahaan keamanan swasta asal Amerika Serikat, UG Solutions (UGS), yang ditugaskan menjaga titik distribusi bantuan di Gaza, ternyata mempekerjakan anggota geng motor ekstrem kanan anti-Muslim asal AS, Infidels Motorcycle Club (MC). Temuan ini menimbulkan keprihatinan mendalam, mengingat lebih dari 1.000 warga Palestina yang tengah mencari bantuan telah terbunuh sejak operasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF) dimulai pada Mei lalu.
Setidaknya sepuluh anggota Infidels MC dikirim ke Gaza, tujuh di antaranya memegang posisi penting dalam operasi bersenjata di bawah GHF, sebuah inisiatif yang didukung AS dan Israel. Geng ini dikenal menganut ideologi Islamofobia ekstrem, menggunakan salib templar sebagai lambang, serta kerap mempromosikan retorika kebencian terhadap Muslim. Mereka bahkan pernah mengadakan pesta babi “untuk menantang” Ramadan, menjual merchandise bertuliskan “Embrace Violence” dan “Make Gaza Great Again,” serta mengunggah konten yang mengagungkan kekerasan terhadap umat Islam.
Operasi keamanan di Gaza dipimpin langsung oleh Johnny “Taz” Mulford, ketua nasional Infidels MC sekaligus mantan sersan Angkatan Darat AS yang memiliki catatan kriminal terkait suap, pencurian, dan pernyataan palsu. Mulford dilaporkan merekrut langsung anggota gengnya untuk posisi bergaji tinggi—hingga sekitar Rp30 juta per hari bagi pemimpin tim.
Beberapa nama yang teridentifikasi di Gaza antara lain Larry “J-Rod” Jarrett (kepala logistik), Bill “Saint” Siebe (kepala keamanan di salah satu lokasi), dan Richard “A-Tracker” Lofton (anggota pendiri sekaligus pemimpin tim). Sejumlah kontraktor juga memproduksi pakaian bertema militer dengan slogan provokatif seperti “Surf all day, rockets all night. Gaza summer 25.”
Laporan lapangan menunjukkan bahwa selain tentara Israel, kontraktor UGS juga melepaskan tembakan ke arah warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Beberapa pria bahkan ditembak langsung di area genital dan kaki. Meski demikian, UGS membantah tuduhan penembakan, mengklaim bahwa kontraktor hanya menembakkan peluru peringatan untuk membubarkan kerumunan.
UGS sendiri menegaskan bahwa mereka tidak memeriksa hobi atau afiliasi pribadi para pekerjanya, sementara GHF menyatakan memiliki tenaga kerja “beragam” dan aturan “nol toleransi terhadap perilaku penuh kebencian.” Namun, catatan publik menunjukkan banyak anggota keamanan ini memiliki rekam jejak kriminal dan jejak digital yang mempromosikan kekerasan bersenjata.
Pengungkapan ini memicu kecaman luas dari kelompok HAM dan tokoh publik. Edward Ahmed Mitchell, wakil direktur Council on American-Islamic Relations (CAIR), menilai penempatan geng motor anti-Muslim sebagai pengawal distribusi bantuan hanya akan memperparah kekerasan. “Menempatkan geng motor Infidels untuk mengawal bantuan kemanusiaan di Gaza sama saja seperti menugaskan KKK untuk membagikan bantuan di Sudan,” tegasnya.
GHF sendiri sejak awal menuai kritik dari kelompok Palestina, pakar hukum internasional, hingga badan-badan PBB karena dinilai beroperasi tanpa transparansi, akuntabilitas, maupun pengawasan. Banyak pihak menilai lembaga ini hanyalah kedok Israel untuk menguasai jalur kemanusiaan Gaza sekaligus menghindari sorotan dunia internasional.
Sumber:
MEMO, The New Arab








