Majelis Media Palestina pada Ahad (31/8) malam mengumumkan kembali wafatnya jurnalis Palestina, yakni Islam Abed beserta suami dan anak-anaknya. Kematian mereka disebabkan serangan Israel yang menargetkan apartemen mereka di Kota Gaza. Sejak 7 Oktober 2023, setidaknya 247 jurnalis telah terbunuh, ratusan lainnya luka-luka atau ditahan, sementara kantor dan institusi media juga menjadi sasaran pengeboman.
Thibaut Bruttin, Direktur Jenderal Reporters Without Borders (RSF), memperingatkan bahwa dengan kecepatan pembunuhan jurnalis oleh pasukan Israel saat ini, maka musnahnya seluruh jurnalis Gaza hanya soal waktu. RSF dan lebih dari 150 media internasional menyerukan akses bebas bagi jurnalis asing dan perlindungan bagi jurnalis Palestina.
Sementara itu, Andrew Legon dari Avaaz menegaskan bahwa Gaza “sedang dijadikan kuburan jurnalis”, untuk menyembunyikan aksi Israel dari pengawasan dunia. Anthony Bellanger, Sekretaris Jenderal Federasi Jurnalis Internasional, menekankan bahwa setiap jurnalis yang terbunuh adalah rekan atau keluarga yang berani mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan serta konvensi PBB untuk keselamatan dan independensi jurnalis.
Serangan terbaru terjadi pada 25 Agustus ketika pasukan Israel mengebom kompleks medis al-Nasser, yang dikenal sebagai pusat jurnalis. Dalam serangan itu, Israel membunuh lima jurnalis termasuk staf Reuters dan Associated Press. Dua pekan sebelumnya, enam jurnalis terbunuh dalam satu serangan, termasuk koresponden Al Jazeera, Anas al-Sharif. Majelis Media Palestina menyerukan organisasi internasional dan serikat pers untuk menghentikan “keheningan yang memalukan” dan segera melindungi jurnalis sesuai hukum internasional.
Sumber: MEMO, The New Arab








