Tentara pendudukan Israel terus menggempur Jalur Gaza dengan serangan udara, artileri, hingga peledakan rumah-rumah warga, terutama di Kota Gaza dan wilayah utara. Serangan itu membunuh puluhan warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, serta menghancurkan pusat-pusat penampungan pengungsi. Di an-Nasr, 12 orang terbunuh akibat bom yang menghantam tenda pengungsi, sementara serangan lain membunuh keluarga lengkap di Nuseirat.
Situasi semakin ktitis ketika Israel mendeklarasikan Kota Gaza sebagai “zona pertempuran berbahaya” dengan rencana mengosongkan kota itu untuk pendudukan penuh. Presiden Palang Merah Internasional, Mirjana Spoljaric, mengecam rencana tersebut, menegaskan bahwa evakuasi massal hampir satu juta penduduk Kota Gaza “mustahil dilakukan dengan aman dan bermartabat” mengingat kehancuran infrastruktur, kelangkaan makanan, air, tempat tinggal, dan layanan medis.
Warga Gaza menolak keras upaya pengusiran ini. “Kami tidak akan pergi. Lebih baik mati daripada meninggalkan Kota Gaza. Tidak ada tempat aman di selatan,” ujar seorang warga. Banyak yang meyakini jika mereka keluar, mereka tidak akan pernah diizinkan kembali, sebagaimana yang dialami di Rafah, Beit Lahia, dan Beit Hanoun.
Kisah Umm Ahmad menggambarkan keputusasaan itu. Setelah rumahnya di Abu Iskandar hancur akibat bom, ia dan keluarganya terpaksa pindah ke rumah kerabat di al-Nasr, tetapi tetap bersikeras tidak meninggalkan kota. Abu Ali, yang pernah mengungsi ke Deir al-Balah, menolak mengulang penderitaan itu: “Kami kehilangan martabat dan merasakan penghinaan di setiap bentuknya. Lebih baik mati di rumah sendiri.”
Pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan menegaskan bahwa wilayah tengah dan selatan Gaza tidak memiliki kapasitas menampung ratusan ribu pengungsi baru. Shelter sudah penuh 96%, infrastruktur ambruk, air dan listrik minim, sementara wilayah pesisir padat dan bagian timur masih jadi sasaran operasi militer.
Dengan kondisi ini, rencana evakuasi massal Israel dinilai sebagai bentuk pembersihan etnis sistematis. Di satu sisi, bom dan robot peledak menghancurkan kota; di sisi lain, rakyat yang tersisa memilih bertahan meski menghadapi maut setiap hari.
Sumber:
Palinfo








