Israel telah menghancurkan lebih dari 1.500 bangunan perumahan di lingkungan Al-Zaitun, Kota Gaza, sejak dimulainya invasi darat pada 6 Agustus lalu.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan bagian selatan Al-Zeitoun kini “rata dengan tanah, tanpa ada satu pun bangunan yang tersisa.” Ia menjelaskan bahwa militer Israel menggunakan ekskavator, mesin berat, hingga robot peledak dengan rata-rata tujuh ledakan setiap hari. Penggunaan drone quadcopter juga memperparah kerusakan. Akibatnya, 80% penduduk Al-Zaitun telah mengungsi ke barat atau utara Kota Gaza.
Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer baru Israel bernama “Gideon’s Chariots 2”, yang disetujui kabinet Benjamin Netanyahu dengan tujuan menduduki Jalur Gaza, khususnya bagian utara. Langkah ini dikecam dunia internasional karena menghentikan upaya gencatan senjata dan memperburuk bencana kemanusiaan.
Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 62.900 warga Palestina terbunuh, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena ribuan korban masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Kondisi serupa juga terjadi di Jabalia, Gaza utara, meski belum ada invasi darat. Basal menegaskan situasi di sana “katastrofis,” dengan runtuhnya sistem pertahanan sipil, minimnya layanan kesehatan, serta ketiadaan tempat berlindung aman. Ia mengecam klaim Israel tentang adanya “zona aman” sebagai kebohongan, mengingat rumah sakit Nasser di Khan Younis, kamp pengungsian dekat RS Syuhada Al-Aqsa, hingga seluruh Rafah juga menjadi target serangan.
Puluhan keluarga di Jabalia al-Nazla kini terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan udara dan artileri yang terus berlangsung, sementara Israel menambah kekuatan dengan membentuk batalion teknik baru di bawah Brigade Givati.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israel-destroys-more-1500-homes-gaza-citys-al-zeitoun








