Anak-anak Palestina di Jalur Gaza akan kehilangan awal tahun ajaran baru untuk ketiga kalinya berturut-turut, kata PBB pada Rabu (27/08). Mereka memperingatkan bahwa genosida telah merampas hak seluruh generasi untuk mendapatkan pendidikan, Anadolu melaporkan.
“Pendidikan adalah hak asasi, dan tidak ada anak yang boleh ditolak haknya. Akses terhadap pendidikan harus dilindungi dan segera dipulihkan,” ujar juru bicara Stephanie Dujarric kepada wartawan. Ia mengatakan bahwa krisis ini “mengancam masa depan seluruh generasi anak-anak di Gaza,” sementara perluasan operasi militer terus meningkatkan risiko dari senjata peledak.
Dujarric mencatat bahwa operasi militer di Gaza utara dan perintah pengungsian baru-baru ini memaksa orang-orang meninggalkan daerah yang memiliki akses terhadap fasilitas penting untuk kelangsungan hidup mereka. Ia menambahkan bahwa fasilitas tersebut dapat segera rusak atau hancur.
Ia mengatakan upaya berbagai organisasi untuk membawa pasokan tempat berlindung ke Gaza telah ditolak oleh Israel. Penolakan terjadi meskipun ada kebutuhan mendesak untuk mengganti tenda dan terpal yang telah usang karena warga sipil terpaksa pindah berkali-kali. Air laut yang pasang juga telah merendam tenda-tenda di pantai, yang berdampak pada 200 keluarga, tambahnya.
Israel telah membunuh hampir 63.000 warga Palestina di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Kampanye militer tersebut telah menghancurkan wilayah kantong tersebut, yang kini sedang menghadapi bencana kelaparan massal.
November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas genosida di daerah kantong tersebut.
Sumber: Middle East Monitor







