Jurnalis Palestina Mariam Abu Daqqa terbunuh pada Senin (16/9) dalam serangan Israel yang sengaja menargetkan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan. Serangan ini terekam dalam siaran langsung. Bersama Mariam, empat rekan jurnalis dan 15 orang lainnya juga terbunuh.
Mariam bekerja untuk beberapa media, termasuk Independent Arabia dan Associated Press (AP). Sebelum wafat, ia menulis surat menyentuh untuk putranya, Ghaith, yang dibagikan rekan-rekannya di media sosial:
“Ghaith, engkau adalah hati dan jiwa ibumu. Aku memintamu untuk mendoakan aku dan jangan menangis, agar aku dapat beristirahat dengan damai. Buatlah aku bangga dengan kerja kerasmu serta keberhasilanmu dalam studi untuk membangun masa depanmu. Ketika engkau menikah dan memiliki putri, tolong beri dia nama Mariam, seperti nama ibumu. Yang paling penting, jangan lalai dalam salat. Salatmu adalah kekuatanmu.”
Mariam terbunuh setelah hampir dua tahun genosida memisahkannya dari putranya yang merindukan pelukan dan kehadirannya. Kepergiannya adalah kehilangan yang mendalam bagi keluarganya dan masyarakat jurnalistik Palestina.
Sumber:
Qudsnen








