Lebih dari 62.000 warga Palestina telah terbunuh akibat serangan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, termasuk lebih dari 18.800 anak-anak. PBB dan badan-badan kemanusiaan memperingatkan bahwa Gaza telah berubah menjadi “kuburan bagi anak-anak” di tengah pengeboman tanpa henti, pengungsian paksa, dan kelaparan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sejak 6 November 2023 sudah menegaskan bahwa “Gaza sedang menjadi kuburan bagi anak-anak.” Pernyataan serupa kembali ditegaskan pada Selasa lalu oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), yang menyatakan tidak ada tempat aman bagi anak-anak di Gaza. UNRWA melaporkan sekolah-sekolah yang dikelola PBB kini menampung ratusan ribu pengungsi setelah rumah-rumah mereka hancur akibat serangan udara Israel.
Mengutip data Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), UNRWA menambahkan bahwa dalam lima bulan terakhir saja, rata-rata lebih dari 540 anak terbunuh setiap bulan sejak Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan melanjutkan serangan.
Kementerian Kesehatan Palestina juga melaporkan bahwa 122 bayi dan anak meninggal karena kekurangan gizi dan kelaparan, akibat blokade Israel yang menghalangi masuknya bantuan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Lebih dari 900 bayi terbunuh sebelum merayakan ulang tahun pertama mereka.
“Banyak dari mereka meninggal di ranjangnya atau ketika sedang bermain. Ada pula yang dikuburkan sebelum sempat belajar berjalan,” kata UNICEF. Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa “selama hampir dua tahun terakhir, lebih dari satu anak terbunuh di Gaza setiap jam. Bayangkan, setiap hari setara satu kelas penuh anak-anak kehilangan nyawanya.”
Sumber:
How Many Children Has Israel Killed in Gaza in About Two Years?








