Pada 3 Agustus, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menyerbu Masjid Al-Aqsa saat peringatan ‘Tisha B’Av’, didampingi 1.250 pemukim yang melakukan ritual Yahudi, mengibarkan bendera, dan menyanyikan lagu untuk pembangunan “Bait Suci Ketiga”. Ini adalah kunjungannya yang keempat sejak 7 Oktober 2023, di tengah kecaman internasional terhadap kelaparan massal di Gaza dan rencana Israel menguasai wilayah tersebut.
Sheikh Azzam Al-Khatib, Direktur Waqaf Islam Al-Quds (Yerusalem), menyebut kunjungan tersebut sebagai “tur provokatif” yang rutin dilakukan Ben-Gvir, dengan pengamanan ketat 100 personel. Ia menyerukan warga Palestina untuk mempertahankan murabitah di Al-Aqsa guna menolak pembagian waktu dan ruang ibadah yang menguntungkan pemukim.
Wasel Abu Yousef dari Komite Eksekutif PLO menyebut upaya ini sebagai “genosida identitas Islam Al-Quds” dan bagian dari perang menyeluruh terhadap rakyat Palestina dan situs suci mereka, seiring dengan aneksasi Tepi Barat, eskalasi kekerasan, dan pemusnahan identitas Palestina.
Militerisasi pemukim melonjak tajam dalam dua tahun terakhir dengan dukungan Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Sejak 7 Oktober, 217.000 izin senjata telah disetujui secara bersyarat dan 165.000 menjadi lisensi permanen. Laporan HAM Israel mencatat terbentuknya “milisi bersenjata” yang membunuh warga Palestina, menghancurkan properti, dan memaksa ribuan orang mengungsi.
Pengamat menilai kunjungan Ben-Gvir adalah bagian dari kesepakatan koalisi dengan PM Benjamin Netanyahu untuk meyahudisasi Al-Quds (Yerusalem). Penyerbuan pemukim meningkat dari 3.000 pada 2006 menjadi 70.000 per tahun, dengan ritual yang kini mencakup sujud epik, doa, dan wacana pembangunan sinagoga di kompleks Al-Aqsa.
Analis memperingatkan bahwa fokus dunia pada Gaza membuat ancaman terhadap Al-Aqsa terabaikan, sementara ideologi sayap kanan Israel mengaitkan kendali Al-Quds (Yerusalem) dengan visi mesianis yang meluas ke Suriah dan Lebanon. Tanpa tekanan internasional yang nyata, langkah ini berpotensi memicu konfrontasi besar dan mengacaukan stabilitas kawasan.
Sumber:
https://www.newarab.com/analysis/israels-dangerous-push-new-status-quo-al-asqa








