Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan bersama Masyarakat Tawanan Palestina (PPS) menyatakan bahwa Israel memperketat pembatasan terhadap pengacara yang memantau kondisi tawanan Palestina di penjara-penjara Israel, baik saat kunjungan maupun persidangan.
Dalam pernyataan bersama pada Senin, kedua organisasi itu menyebutkan bahwa selain pembatasan yang sudah diberlakukan sejak awal genosida di Gaza, kini administrasi penjara Israel melarang pengacara menyampaikan salam atau pesan dari keluarga kepada tawanan. Pengacara diancam akan mendapat sanksi jika mencoba menyampaikan pesan tersebut selama kunjungan atau di pengadilan.
Langkah ini dianggap sebagai bagian dari upaya Israel untuk mengisolasi tawanan sepenuhnya dari dunia luar dan keluarganya. Israel juga terus memblokir kunjungan Komite Internasional Palang Merah dan melarang kunjungan keluarga sejak agresi dimulai.
Pada awal agresi, Israel bahkan melarang pengacara mengunjungi tawanan sama sekali. Setelah tekanan dari kelompok hak asasi, kunjungan diizinkan kembali tetapi dengan berbagai hambatan berat, seperti pembatalan mendadak pertemuan yang sudah dijadwalkan dengan alasan “keadaan darurat” di penjara, serta penundaan lama dalam pengajuan izin kunjungan yang bisa berbulan-bulan, terutama bagi tawanan seumur hidup.
Kelompok hak tawanan juga mencatat adanya kasus tawanan yang diserang atau diancam sebelum atau setelah bertemu pengacara, serta gelombang larangan beruntun terhadap pengacara tertentu untuk mengunjungi kliennya.
Selain itu, Israel ditengarai telah melakukan penghilangan paksa terhadap banyak tawanan Gaza dengan menolak akses hukum bagi mereka. Kunjungan terbatas untuk beberapa tawanan Gaza baru-baru ini hanya diperbolehkan di bawah pengawasan ketat keamanan.
Sejak 7 Oktober 2023, sekitar 18.500 warga Palestina telah ditangkap di Tepi Barat yang diduduki, termasuk yang telah dibebaskan. Per Juli 2025, sekitar 10.800 tawanan Palestina masih berada di penjara Israel, termasuk 49 perempuan dan 450 anak-anak, jumlah tertinggi sejak Intifada Kedua tahun 2000.








