Lembaga Tawanan Palestina melaporkan bahwa 662 warga Palestina, termasuk 39 anak-anak dan 12 perempuan, telah ditahan oleh pendudukan Israel di Tepi Barat, termasuk Al-Quds, selama Juli 2025.
Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan, Masyarakat Tawanan Palestina (PPS), dan Asosiasi Al Dameer untuk Hak Asasi Manusia menyatakan dalam laporan yang dikeluarkan pada Ahad (10/08) bahwa jumlah total penahanan di Tepi Barat sejak dimulainya genosida yang sedang berlangsung telah meningkat menjadi lebih dari 18.500, termasuk lebih dari 570 perempuan dan sekitar 1.500 anak-anak.
Angka-angka ini mencakup tawanan yang masih ditahan oleh pendudukan Israel dan mereka yang dibebaskan kemudian. Angka-angka ini tidak mencakup tawanan dari Gaza, yang jumlahnya diperkirakan mencapai ribuan sejak dimulainya genosida.
Sebelumnya pada Jumat (08/08), sebuah kelompok hak asasi Palestina menyatakan bahwa otoritas penjara Israel secara sistematis menyiksa tawanan dengan sengatan listrik dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya. Lembaga tersebut juga memperingatkan adanya pola kekejaman fisik dan psikologis yang berkembang, lapor Anadolu.
Komisi Palestina untuk Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan mengatakan kondisi di Penjara Gilboa di Israel utara telah memburuk secara signifikan akibat serbuan unit-unit khusus ke sel-sel tawanan dengan dalih inspeksi.
Selama penggerebekan ini, para tawanan diborgol, dikeluarkan secara paksa dari sel mereka, dan dilaporkan mengalami pemukulan hebat dan sengatan listrik, kata komisi tersebut, mengutip kesaksian dari seorang pengacara yang baru-baru ini mengunjungi penjara tersebut.
Para tawanan diseret melintasi lantai basah area pancuran, sementara pakaian dan tubuh mereka yang basah disetrum untuk memperparah rasa sakit.
“Sengatan listrik itu tidak hanya untuk menyakiti, tetapi juga dirancang untuk menghancurkan para tawanan,” kata komisi tersebut. “Beberapa tawanan kehilangan kesadaran. Yang lain berdarah karena kepalanya terluka setelah dipukul dengan bagian logam dari alat setrum.”
Laporan itu juga menggambarkan penghinaan yang diterima tawanan, yaitu para penjaga Israel diduga menertawai tawanan yang tergeletak di tanah dan berlumuran darah.
Selain penyiksaan fisik, komisi tersebut melaporkan kekurangan makanan yang parah, dan mencatat bahwa para tawanan menerima porsi makanan yang sangat sedikit, sehingga menyebabkan penurunan berat badan secara cepat.
Dalam pernyataan terpisah, kepala komisi Raed Abu al-Hummus menyuarakan kekhawatiran atas memburuknya kondisi di Penjara Ofer, dekat kota Ramallah, Tepi Barat. Ia menegaskan bahwa para tawanan semakin menjadi sasaran tekanan psikologis yang dirancang untuk merusak moral dan stabilitas mental mereka.
“Tujuannya jelas: melemahkan mereka secara emosional, mendorong mereka ke dalam kondisi kolaps psikologis,” terangnya. “Ini bukan taktik tersendiri, melainkan bagian dari kejahatan Israel yang semakin intensif di dalam penjara.”
Abu al-Hummus mengimbau kelompok hak asasi manusia internasional untuk mengakhiri kebisuan mereka dan bertindak sebelum terjadi lebih banyak lagi kerusakan. Ia juga menekankan bahwa netralitas hanya akan memungkinkan terjadinya pelanggaran lebih lanjut.
![Tampak penjara tahanan untuk warga Palestina di Tepi Barat [English Wafa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/6-720x375.jpg)







