Seorang dokter Palestina di Gaza memperingatkan pada Jumat (08/08) bahwa tanpa intervensi mendesak yang menyediakan makanan dan obat-obatan terapeutik, anak-anak yang menghadapi kelaparan di wilayah yang terkepung itu bisa meninggal “bukan dalam hitungan minggu, melainkan dalam hitungan hari,” lapor Anadolu.
Berbicara dalam pengarahan virtual yang dimoderatori oleh aktor dan aktivis Amerika Cynthia Nixon tentang kelaparan di Gaza, serangan terhadap layanan kesehatan, dan penahanan tenaga medis Palestina, Dr. Rana Soboh menggambarkan lonjakan “yang mengkhawatirkan” dalam angka malnutrisi akut parah di antara balita, khususnya di wilayah utara Gaza.
“Tahukah Anda apa yang terjadi di Gaza utara? Apa yang saya saksikan sungguh mengkhawatirkan,” kata Soboh, yang menjabat sebagai petugas gizi di Gaza untuk MedGlobal, sebuah organisasi kemanusiaan berbasis di AS yang aktif di wilayah Palestina.
Beberapa anak yang kami lihat sangat lemah sehingga mereka tidak bisa berjalan, tertawa, bermain, duduk, atau bahkan menangis. Mereka datang dengan infeksi, diare, masalah kulit, dehidrasi parah, dan komplikasi lainnya, dan seringkali kami tidak punya tempat untuk merujuk mereka. Beberapa fasilitas kesehatan yang tersisa berada dalam kondisi kewalahan, hancur, atau kekurangan pasokan.
Soboh menekankan bahwa merawat anak-anak yang kekurangan gizi akut merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan pemberian makanan terapeutik khusus, susu terapeutik, zat gizi mikro, antibiotik, dan pemantauan ketat.
“Tanpa bantuan ini, mereka bisa meninggal, bukan dalam hitungan minggu, melainkan hari,” ujarnya. Ia juga mendesak “akses kemanusiaan yang segera, aman, dan berkelanjutan ke Gaza utara” serta pengiriman makanan dan susu terapeutik tanpa penundaan.
Anak-Anak Terluka, Tapi Tidak Mendapat Perawatan
Dr. Majed Jaber, seorang dokter medis dari Gaza, juga berbicara dalam pengarahan tersebut. Ia menceritakan kasus seorang anak yang mengalami anoksia otak—kekurangan oksigen—setelah menghirup gas air mata yang ditembakkan oleh tentara di lokasi distribusi GHF yang didukung AS dan Israel. “Tiga perempat otaknya mati, dan pada dasarnya ia lumpuh,” kata Jaber.
Ia juga menceritakan pengalamannya merawat tiga remaja dengan luka tembak pada awal pekan ini. Salah satu dari mereka meninggal dunia setelah mengalami henti jantung akibat kekurangan obat-obatan esensial. “Kami bahkan tidak punya Tylenol, obat hipertensi, atau antibiotik yang paling sederhana sekalipun,” kata Jaber.
“Kami (para dokter) harus berdebat dan meyakinkan diri mengapa pasien ini berhak mendapatkan satu botol obat yang tersisa … Bayangkan jika kita dipaksa untuk memutuskan siapa yang akan mendapatkan obat pereda nyeri sederhana dan siapa yang tidak.” Nixon, yang memoderatori panel tersebut, menyebut situasi ini sebagai “krisis hati nurani” yang menuntut perhatian dan tindakan global yang mendesak.
Penargetan Petugas Kesehatan
Dr. Thaer Ahmad, seorang dokter Palestina-Amerika dan anggota dewan MedGlobal yang telah melakukan beberapa perjalanan bantuan ke Gaza, menyatakan keprihatinannya atas penargetan dan penahanan para tenaga kesehatan, dengan mencatat bahwa hampir setiap direktur rumah sakit di Gaza utara telah “dibunuh atau diculik”.
“Jelas ada upaya yang disengaja untuk menghancurkan setiap peluang menyelamatkan nyawa di Jalur Gaza,” kata Ahmad. Ia menyebut Dr. Hassan Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, yang ditahan oleh Israel sejak akhir Desember.
Meskipun jet tempur, tank, dan pasukan darat memperluas invasi mereka, para pekerja kesehatan masih datang untuk bekerja meski dengan keadaan lapar dan kewalahan, tambahnya.
Lina Qassem-Hassan, ketua Dewan Direksi Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (PHRI), memberikan rincian tentang penahanan Abu Safiya. Ia mengutip keterangan pengacaranya bahwa Abu Safiya telah kehilangan berat badan sebanyak 40 kilogram (88 pon) di penjara. Ia dipukuli dengan parah dan ditahan dalam kondisi kelaparan, mengalami penyiksaan dan isolasi, serta tanpa perawatan medis meskipun detak jantungnya tidak teratur.
“Kita bicara tentang lebih dari 300 dokter, perawat, dan paramedis yang ditangkap secara total,” kata Qassem-Hassan. Ia menambahkan bahwa lebih dari 100 tenaga kesehatan masih ditahan, termasuk 25 dokter, lebih dari 50 perawat, dan 30 paramedis — tidak ada yang didakwa melakukan kejahatan. Empat tenaga medis telah meninggal dunia dalam tahanan Israel, dan keberadaan jenazah mereka masih dirahasiakan, tambahnya.
Ia menguraikan kesaksian para pekerja kesehatan Palestina yang merinci “ritual penyiksaan” selama penahanan, termasuk pemukulan sistematis yang dikenal sebagai “penyambutan”, perampasan jam tidur, penyiksaan sensorik di ruangan yang disebut “disko” dengan lampu yang menyilaukan dan musik yang memekakkan telinga, kelaparan, penolakan perawatan medis, serta kekerasan fisik, mental, dan seksual.
Qassem-Hassan mendesak masyarakat medis internasional, jurnalis, dan pembela hak asasi manusia untuk mengungkap dan menyelidiki pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah Israel dan menuntut pembebasan tenaga medis yang ditahan.
“Semakin dini intervensi terhadap malnutrisi dilakukan, semakin besar peluang untuk mengurangi dampak jangka panjang,” ujar Qassem-Hassan, seraya memperingatkan bahwa tanpa tindakan, jumlah kematian anak-anak dan komunitas medis di Gaza akan terus meningkat.
Israel tengah menghadapi protes yang semakin meningkat atas genosida destruktifnya di Gaza. Lebih dari 61.200 orang terbunuh sejak Oktober 2023. Kampanye militer Israel telah menghancurkan Jalur Gaza, yang kini sedang dilaparkan habis-habisan.
![Bayi Palestina berusia lima bulan, Ammar Ammara, menderita malnutrisi parah di Kota Gaza, Gaza, akibat blokade dan serangan Israel yang terus berlangsung, 7 Agustus 2025. [Khames Alrefi – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/3-750x375.webp)






![BBPapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asai manusia di wilayah Palestina, Francesca Albanese, menghadiri unjuk rasa menentang serangan Israel di Gaza, di Madrid, Spanyol, pada 23 Juni 2025 [Dok. MEMO]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/4-75x75.webp)
