Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mengungkapkan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza yang semakin memburuk akibat blokade ketat dan serangan terus-menerus dari Israel. Sejak Maret 2025, lebih dari 100 tenaga kesehatan, termasuk ahli bedah dan staf medis spesialis, telah ditolak masuk ke Gaza. Bahkan pada Selasa (5/8), tim medis darurat kembali dilarang masuk.
Juru bicara PBB, Farhan Haq, menyebut bahwa larangan ini menjadi praktik yang terus berlanjut dan sangat menghambat upaya penanganan krisis kesehatan yang parah. Ia juga menekankan bahwa persoalan visa dan pembatasan pergerakan oleh otoritas Israel menjadi kendala utama dalam mengakses Gaza. Di sisi lain, sejak Maret, Israel juga memblokir masuknya material untuk tempat tinggal, meski jutaan warga telah mengungsi akibat perintah evakuasi militer.
Sementara itu, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA), Jens Laerke, menyatakan bahwa skala kebutuhan di Gaza sangat besar sehingga ratusan truk bantuan harus diizinkan masuk setiap hari, bukan hanya dalam hitungan minggu, tetapi selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun ke depan. Ia menyoroti ketimpangan antara bantuan yang sangat minim yang berhasil masuk dan kebutuhan masif yang terus meningkat.
Laerke juga menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan tidak cukup untuk mengatasi krisis; barang kebutuhan komersial juga harus diizinkan masuk. Ribuan ton bantuan, termasuk makanan, saat ini menumpuk di perbatasan Gaza, bantuan yang dibayar oleh para donor itu belum dapat disalurkan karena tidak ada fasilitasi dari pihak Israel.
Di bawah gempuran militer dan blokade yang membatasi akses kemanusiaan, Gaza kini menghadapi bencana kelaparan yang semakin meluas. Dalam 24 jam terakhir, tercatat lima kematian baru akibat kekurangan gizi, sehingga total korban meninggal karena kelaparan mendekati 200 jiwa, setengahnya adalah anak-anak.
Israel juga dinilai menggunakan kelaparan dan kehausan sebagai senjata, dengan menghancurkan 88% infrastruktur sipil dan terus menyerang wilayah-wilayah pengungsian. Sekitar 2 juta dari total 2,3 juta penduduk Gaza telah mengungsi. Mereka kini bertahan hidup di tenda darurat atau sekolah yang penuh sesak, tanpa air bersih dan toilet yang memadai, serta dalam kondisi sanitasi yang buruk, yang memperparah penyebaran penyakit menular.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah membunuh sedikitnya 60.933 warga Palestina dan melukai lebih dari 150.027 orang.
Sumber:
https://www.#/20250805-hundreds-of-aid-trucks-needed-daily-to-end-famine-in-gaza-un/
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/un-says-over-100-doctors-barred-from-gaza-since-march-amid-worsening-crisis/3652343








