Sejak Mei 2025, lebih dari 1.500 warga Palestina di Gaza dilaporkan terbunuh saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan, menurut laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), Senin (4/8). Jumlah ini mencakup mereka yang dibunuh di sepanjang jalur konvoi PBB dan titik distribusi yang dimiliterisasi, termasuk 21 orang yang terbunuh pada Senin (4/8) dalam dua insiden terpisah di dekat lokasi bantuan milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga kontroversial yang didukung AS.
“Setiap orang yang pergi ke sana hanya punya tiga kemungkinan, pulang membawa hanya sekarung tepung, pulang sebagai syahid, atau pulang dalam keadaan luka. Tak ada yang benar-benar selamat,” ujar Bilal Thari (40 tahun), warga Palestina yang menyaksikan kondisi tersebut.
1.500 warga telah terbunuh di sekitar lokasi GHF sejak lembaga tersebut mulai beroperasi pada Mei 2025. Sebagian besar korban terbunuh akibat tembakan pasukan Israel yang beroperasi di dekat area distribusi bantuan. Kondisi ini mengundang kecaman dari berbagai pihak, termasuk lembaga kemanusiaan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebut distribusi bantuan di Gaza sebagai “jebakan maut” bagi warga sipil yang kelaparan.
Farhan Haq, juru bicara deputi Sekretaris Jenderal PBB, juga melaporkan bahwa seorang petugas kesehatan dari Palang Merah Palestina terbunuh dalam serangan udara Israel di Khan Yunis, Gaza bagian selatan, pada Minggu.
Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk akibat ketidakcukupan distribusi bantuan. Pemerintah Gaza mencatat bahwa sejak 27 Juli, Israel hanya 674 truk bantuan yang diizinkan masuk —angka ini hanya memenuhi sekitar 14% dari kebutuhan minimum harian Gaza, yang mencapai 600 truk. Sebagian besar dari 80 truk yang berhasil masuk pada Ahad kemarin bahkan dijarah dalam kondisi yang digambarkan sebagai “iklim kekacauan dan kelaparan yang sengaja direkayasa.” Israel dinilai menggunakan kelaparan sebagai senjata untuk melemahkan ketahanan rakyat Palestina.
Lebih mengkhawatirkan lagi, lima orang lainnya dilaporkan meninggal dunia karena kelaparan. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa bencana kelaparan besar sedang berlangsung di Gaza. PBB telah memperingatkan bahwa pengiriman bantuan melalui udara tidak mencukupi dan mendesak Israel untuk segera membuka lebih banyak jalur darat dan mempermudah akses terhadap bantuan.
Otoritas Gaza juga menyebutkan bahwa lebih dari 22.000 truk bantuan masih tertahan di luar perbatasan, sementara rata-rata hanya 84 truk yang diizinkan masuk sejak pelonggaran terbatas diberlakukan oleh Israel pada 27 Juli.
Sumber:
https://www.#/20250804-1500-killed-while-seeking-aid-in-gaza-since-may-un/
https://www.newarab.com/news/more-aid-seekers-killed-gaza-amid-war-starvation-campaign








