Umm al-Khair, Tepi Barat — Awdah Hathaleen (31), seorang guru dan aktivis perdamaian Palestina, ditembak mati oleh pemukim Israel di desanya, Masafer Yatta, pada Sabtu lalu. Hingga tiga hari pascakejadian, jenazahnya masih ditahan oleh otoritas Israel, sementara pelaku penembakan, Yinon Levi, telah dibebaskan dari tahanan dan hanya dikenai status tahanan rumah setelah mengklaim “membela diri”.
Awdah dikenal sebagai tokoh damai dan tampil dalam film dokumenter pemenang Oscar No Other Land. Saat kejadian, ia diduga tengah merekam serangan terhadap desanya dengan ponsel, ketika Levi menembaknya dari jarak jauh sembari mengendarai ekskavator yang digunakan untuk menghancurkan saluran air desa. Saudara korban, Ahmad, juga dipukul dengan alat berat hingga tak sadarkan diri
Meski Israel mengklaim tindakan itu dilakukan untuk mencegah kerusuhan, keluarga Hathaleen menolak narasi tersebut. Mereka menegaskan bahwa Awdah sedang merekam kejadian dari kejauhan dan tidak melakukan serangan apa pun. “Saat Awdah syahid, ia berada jauh dari pemukim dan sedang memegang ponselnya untuk mendokumentasikan serangan itu,” ujar Khalil Hathaleen, saudara korban sekaligus kepala dewan desa.
Hingga kini, jenazah Awdah belum diserahkan, sementara tentara Israel mengajukan syarat ketat untuk pemakamannya, termasuk batasan jumlah pelayat, larangan pengibaran bendera, dan larangan menyanyikan lagu perjuangan–yang Israel sebut lagu “hasutan”. Israel juga menentukan lokasi pemakaman hanya di tempat yang dianggap “legal” oleh Israel, bukan di Umm al-Khair yang mereka nyatakan sebagai “wilayah sengketa”.
Keluarga menolak semua pembatasan tersebut dan bersikeras untuk menguburkan Awdah di kampung halamannya. Mereka juga khawatir desanya akan mengalami nasib serupa seperti Khirbet Khilet al-Dabe yang dikosongkan secara paksa dan dinyatakan sebagai zona militer tertutup dua bulan lalu.
Sejak peristiwa penembakan, 13 anggota keluarga Hathaleen dan dua aktivis asing telah ditangkap oleh tentara Israel. Pada tahun 2025 ini saja, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) telah mencatat 757 serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina—meningkat 13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Kami tidak akan mundur. Awdah bukan orang biasa, ia adalah simbol perdamaian yang memiliki banyak dukungan internasional. Mungkin itulah alasan ia menjadi target,” pungkas Khalil.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israel-blocks-funeral-palestinian-activist-awdah-hathaleen








