Para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras tindakan Israel yang secara sengaja memutus akses air bersih bagi warga Palestina di Jalur Gaza. Mereka menyebut tindakan ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
“Israel menggunakan kehausan sebagai senjata untuk membunuh warga Palestina,” ujar para ahli dalam pernyataan resmi, Selasa (30/7). “Memutus akses air dan makanan adalah bom mematikan yang membunuh secara diam-diam, terutama anak-anak dan bayi. Pemandangan bayi yang meregang nyawa di pelukan ibunya sungguh tak tertahankan.”
Mereka menegaskan bahwa bencana ini bukan hanya dapat diprediksi, tetapi telah diperingatkan sejak lama. Blokade Israel dan penghancuran infrastruktur sipil telah membuat mayoritas dari dua juta penduduk Gaza terusir dari rumahnya dan tidak memiliki akses terhadap jumlah air minum minimum yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.
Sejak Oktober 2023, operasi militer Israel telah berulang kali menargetkan fasilitas air, sumur, pipa, unit desalinasi, dan sistem pembuangan limbah. Sebanyak 89 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza telah rusak atau hancur, menyebabkan lebih dari 90 persen rumah tangga mengalami krisis air bersih.
PBB menyatakan bahwa tindakan ini merupakan kejahatan di bawah Statuta Roma, termasuk kejahatan pemusnahan dengan memutus pasokan obat, makanan, dan air secara sistematis. “Serangan yang disengaja, meluas, dan sistematis ini ditujukan untuk menghancurkan kehidupan masyarakat—sebuah tindakan genosida lainnya,” ujar mereka.
Dalam Opini Penasihat yang dikeluarkan pada 9 Juli 2024, Mahkamah Internasional menegaskan bahwa sebagai kekuatan pendudukan, Israel memiliki kewajiban hukum untuk menjamin pasokan pangan dan air yang cukup bagi penduduk lokal. Namun, Israel justru mengurangi jumlah air yang diizinkan masuk, termasuk pasokan darurat, yang menyebabkan kekurangan dan memaksa warga mengandalkan sumber air yang tercemar.
Krisis semakin parah akibat hampir habisnya pasokan bahan bakar, yang memaksa lembaga kemanusiaan mengurangi operasi penyelamatan jiwa, termasuk distribusi air bersih. Sumur-sumur penting di fasilitas UNRWA yang selama ini menyediakan ratusan ribu liter air per hari terancam ditutup jika bahan bakar tambahan tidak segera diizinkan masuk ke Gaza.
Di tengah suhu musim panas yang meningkat dan kondisi sanitasi yang buruk, penduduk Gaza menghadapi lonjakan kasus dehidrasi dan penyakit akibat air yang terkontaminasi. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 147 orang—termasuk 88 anak-anak—telah meninggal dunia karena kelaparan sejak Oktober 2023.
“Komunitas internasional harus segera bertindak untuk menghentikan penyiksaan tidak manusiawi ini dan memastikan pemulihan layanan air dan sanitasi di Gaza,” tegas para ahli PBB. Mereka juga menyerukan pengiriman bantuan kemanusiaan melalui jalur laut dari seluruh pelabuhan Mediterania, mencakup bahan bakar, air, logistik, dan tenaga kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga Gaza.
Sumber:
https://www.ohchr.org/en/press-releases/2025/07/thirst-weapon-un-experts-condemn-israels-deliberate-dehydration-and
https://www.#/20250729-un-experts-condemn-israeli-use-of-thirst-as-a-weapon-against-palestinians/








