Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Peringatan ini memiliki makna dan harapan agar Indonesia selalu menunjukkan kepeduliannya terhadap anak-anak. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari generasi sebelumnya. Demikian pentingnya kedudukan seorang anak, maka seluruh anak tanpa terkecuali harus mendapatkan hak mereka atas perlindungan, pendidikan, kesehatan, dan hak-hak lainnya.
Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, Indonesia mengesahkan Undang-Undang No. 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak pada tahun 1979. Penyusunan undang-undang ini berlatar belakang mengenai kesadaran Indonesia akan potensi anak sebagai penerus cita-cita bangsa. Untuk itu, negara perlu menjamin bahwa anak-anak harus memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik secara rohani, jasmani, dan sosial. Anak-anak belum bisa menjamin kesejahteraan diri mereka sendiri, karenanya negara menyusun dan mengesahkan undang-undang ini.
Tahun ini menjadi peringatan Hari Anak Nasional ke-41 di Indonesia. Setiap tahunnya, Hari Anak Nasional hadir dengan mengusung tema yang berbeda, dan tema besar yang diangkat pada Hari Anak Nasional 2025 yaitu “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” dengan tagline “Anak Indonesia Bersaudara”. Tema ini dibuat dengan tujuan menegaskan komitmen bersama untuk mewujudkan generasi anak Indonesia yang unggul dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Logo peringatan Hari Anak Nasional tahun ini juga dibuat sedemikian rupa agar bisa menjadi lambang yang menunjukkan harapan besar terhadap anak-anak Indonesia. Tiga anak yang memegang bendera merah putih melambangkan setiap anak–termasuk anak disabilitas–memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan yang gemilang. Mereka adalah representasi generasi penerus bangsa yang hidup dalam semangat kebhinekaan dan naungan Sang Saka Merah Putih.
Warna merah dan putih merupakan simbol dari keberanian, nasionalisme, dan semangat kebersamaan. Warna ini juga menunjukkan semangat optimisme, kreativitas, serta gotong royong di antara anak Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman. Garis berwarna abu-abu melambangkan dinamika kebutuhan anak yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Garis ini menjadi representasi dari pentingnya pemenuhan hak dan perlindungan anak sesuai dengan potensi dan tingkat kerentanannya.
Tema dan simbol yang disiapkan untuk Hari Anak Nasional 2025 mencerminkan semangat untuk menciptakan anak Indonesia yang sehat, cerdas, tangguh, serta memiliki jiwa kebersamaan dalam keberagaman. Demi menyiapkan anak-anak Indonesia agar memiliki sifat-sifat luhur tersebut, anak-anak memerlukan peran kita sebagai orang dewasa untuk membantu mengarahkan mereka agar bisa memandang dunia dari sudut pandang yang tepat.
Berbicara Tentang Palestina ke Anak: Langkah Awal Menumbuhkan Empati

Dunia yang ditinggali oleh anak-anak kita saat ini tidaklah sama dengan masa ketika kita kecil dahulu. Saat ini, anak-anak hidup di dunia yang serba cepat, termasuk arus informasi yang sampai ke telinga mereka. Melalui gawai kecil yang bisa digenggam tangan, mereka seolah bisa menggenggam apa yang terjadi di seluruh dunia dalam satu waktu. Perkembangan ini bisa menjadi dua sisi mata pedang, membanggakan atau justru meresahkan.
Kita telah menyaksikan banyak anak yang dibimbing untuk bisa memanfaatkan internet dan media sosial mereka dengan sangat baik. Dengan pengawasan yang tegas namun tak mengekang, anak-anak ini menuangkan kreativitas mereka dalam berbagai bidang untuk diposting di media sosial. Mereka bebas berekspresi, tetapi juga diberi pemahaman mengenai batasan. Namun tak sedikit anak-anak yang mengakses internet tanpa pengawasan, membuat mereka lupa waktu, tenggelam dalam arus informasi yang menyesatkan, lantas meniru hal-hal yang mereka anggap “keren” namun bertentangan dengan norma dan etika dalam masyarakat.
Penjajahan di tanah Palestina adalah salah satu isu yang cukup banyak beredar di internet, yang artinya dapat dengan mudah diakses oleh anak-anak. Di sinilah peran orang dewasa dibutuhkan, untuk mengarahkan anak-anak agar dapat memahami suatu isu dari perspektif yang benar, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan. Informasi yang anak-anak dapatkan mungkin akan memicu banyak pertanyaan dalam benak mereka, oleh karena itu penting bagi kita untuk memiliki pengetahuan tentang Palestina. Kita tak harus menjadi pakar Timur Tengah untuk bisa menjawab pertanyaan mereka, namun setidaknya kita bisa memberikan jawaban yang dapat mereka pahami atau mengarahkan mereka untuk mencari jawaban di sumber yang terpercaya.
Berbicara tentang Palestina kepada anak-anak tidak harus dilakukan dalam sesi diskusi yang panjang dan berat mengenai sejarah dan isu politik yang panjang dan berbelit-belit. Sebaliknya, edukasi tentang Palestina bisa dijelaskan dalam hal-hal yang sederhana dan mudah dimengerti anak-anak, membuat mereka merasa dekat dengan Palestina. Saat ini juga sudah banyak ilustrasi visual tentang Palestina yang ramah anak, baik dalam bentuk buku, foto, maupun video.
Mendekatkan Palestina kepada anak-anak bisa dimulai dengan menjelaskan bahwa Palestina juga merupakan sebuah negara seperti Indonesia. Penduduk Palestina juga beragam seperti di sini, ada yang bermata biru dan berkulit terang, ada juga yang bermata coklat dan berkulit gelap. Di Palestina, penduduknya bangga mengenakan keffiyeh sebagai simbol perlawanan atas penjajahan, dan para perempuannya mengenakan thobe yang sulamannya adalah bagian dari warisan budaya mereka. Di Palestina, tumbuh banyak pohon zaitun yang menjadi simbol keteguhan penduduknya atas tanah air mereka.
Palestina adalah Tanah Suci, tanah kelahiran dan tempat berdakwah banyak nabi. Tanah Palestina merupakan tempat Nabi Ibrahim as berdakwah dan menetap hingga wafat, sehingga salah satu masjid di Al-Khalil (Hebron), Tepi Barat, diberi nama Masjid Ibrahimi. Kedua putra Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Ismail as dan Nabi Ishaq as juga dilahirkan di Palestina. Nabi Daud AS juga berdakwah di Palestina, dan putranya yaitu Nabi Sulaiman AS dilahirkan di Palestina, tepatnya di Al-Quds (Yerusalem). Nabi lainnya yang dilahirkan di Palestina adalah Nabi Isa as, yaitu di Betlehem.
Di Tanah Suci Palestina, tepatnya di Al-Quds (Yerusalem), berdiri Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam di seluruh dunia. Masjid Al-Aqsa merupakan tempat Rasulullah saw singgah dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, perjalanan bersejarah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan ke Sidratul Muntaha yang ditempuh hanya dalam waktu satu malam.
Palestina adalah negeri yang penduduknya penuh keteguhan. Meski saat ini masih dijajah, banyak orang Palestina yang menolak untuk meninggalkan rumah dan tanah air mereka. Di Masjid Al-Aqsa yang diberkahi, setiap harinya dari Subuh hingga Isya selalu ramai dengan penduduk yang ingin beribadah, meski pasukan Israel dan para pemukim ilegal selalu menghalangi mereka untuk memasuki masjid.
Palestina juga menjadi tempat dilahirkannya anak-anak yang istimewa. Sekolah-sekolah mereka dihancurkan, namun Palestina menjadi salah satu negara dengan tingkat buta huruf terendah di dunia. Masjid-masjid mereka dibom, tetapi Palestina, tepatnya di Gaza, menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penghafal Al-Qur’an terbanyak di dunia. Anak-anak Palestina tak seberuntung anak-anak di belahan dunia lain, tetapi mereka diberi kelebihan yaitu kekuatan untuk bertahan, bahkan melebihi orang dewasa pada umumnya.
Berbicara tentang Palestina kepada anak-anak adalah upaya untuk menyatukan hati dan membangun empati dengan saudara-saudara mereka di Palestina. Banyak kisah menyentuh tentang anak Palestina yang berbagi makanan atau minuman dengan kucing dan anjing peliharaan mereka di tengah kelangkaan pangan. Juga kisah orang dewasa yang merawat anak-anak yang tak mereka kenal karena kehilangan orang tua akibat agresi. Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa di Palestina yang penuh tantangan, penduduknya memiliki rasa kemanusiaan yang sangat besar.
Untuk memahami Palestina, anak-anak tak harus pergi ke sana, mereka hanya membutuhkan cinta dan rasa kemanusiaan yang dibangun sejak dini untuk peduli. Dan rasa peduli itu dapat disalurkan melalui banyak tindakan: bisa dengan menyisihkan tabungan untuk didonasikan ke Palestina, membuat gambar ilustrasi sederhana tentang Palestina, menuliskan harapan mereka untuk anak-anak Palestina, atau mengikuti aksi dan kegiatan kemanusiaan bertema Palestina. Ada banyak cara untuk membantu Palestina, salah satunya adalah dengan mengajarkan anak-anak kita sejak dini agar tidak menutup mata atas apa yang sedang terjadi di Palestina.
Edukasi Palestina: Menumbuhkan Cinta dan Kepedulian di Hati Anak Indonesia
Anak-anak kita bukanlah orang dewasa yang terjebak di tubuh yang mungil. Mereka adalah makhluk yang polos dan murni, mereka menyerap dan meniru apa yang orang dewasa lakukan. Maka sangat penting bagi kita untuk menjaga sikap di dekat mereka, terutama dalam hal edukasi mengenai Palestina. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk memilah kata dan metode penyampaian yang tepat bagi anak-anak, agar di hati mereka tumbuh rasa cinta dan kepedulian terhadap Palestina.
Akhir kata, Adara Relief International mengucapkan Selamat Hari Anak Nasional untuk seluruh anak Indonesia. Adara mencintai anak-anak Indonesia dengan sepenuh hati, dan berharap mereka akan tumbuh menjadi generasi yang penuh cinta, peka untuk peduli, tumbuh dengan empati, dan menjadi generasi yang membuat Palestina dan seluruh dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk generasi-generasi selanjutnya.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
https://adararelief.com/adara-palestine-situation-report-48/
https://babesabouttown.com/2021/05/talk-to-our-children-about-palestine/








