Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) kembali menyatakan bahwa Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang terhadap warga sipil di Jalur Gaza.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Ahad (21/7), UNRWA menyatakan:
“Otoritas Israel membuat warga Gaza kelaparan. Di antara mereka ada satu juta anak-anak.”
UNRWA mendesak pencabutan segera atas blokade total Israel sejak 2 Maret, dan menyerukan agar lembaga itu diizinkan membawa masuk makanan dan obat-obatan. Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengungkapkan bahwa sejak blokade dimulai, UNRWA belum diizinkan mengirimkan bantuan pangan ke dalam Gaza, padahal stok makanan yang mereka miliki di luar Gaza cukup untuk seluruh populasi selama tiga bulan.
Meskipun hukum internasional mewajibkan perlindungan terhadap warga sipil dan akses kemanusiaan, Israel terus membombardir konvoi bantuan, menutup perbatasan, dan menargetkan titik distribusi bantuan. Tindakan-tindakan ini secara luas dikecam sebagai hukuman kolektif dan kejahatan perang potensial.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 86 warga Palestina, termasuk 76 anak-anak, telah meninggal dunia akibat dilaparkan dan kekurangan gizi sejak agresi Israel dimulai. Dalam 24 jam terakhir saja, 18 orang terbunuh karena dilaparkan, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas. Situasi ini disebut sebagai “pembantaian dalam senyap.”
Kementerian menyerukan pembukaan segera perbatasan agar bantuan makanan dan obat-obatan dapat masuk ke wilayah yang terkepung.
Pada Sabtu (20/7), serangan Israel membunuh sedikitnya 136 warga, termasuk 38 orang yang tengah menunggu bantuan dan tiga anak yang meninggal karena malnutrisi parah, menurut sumber resmi Palestina.
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-is-starving-gaza-civilians-including-1-million-children-unrwa-/3636196
https://www.#/20250720-israel-is-starving-gaza-civilians-including-1-million-children-unrwa/








