Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menilai Israel sengaja melaparkan warga sipil, termasuk satu juta anak di Gaza, dengan menghalangi masuknya makanan dan obat-obatan penting ke wilayah yang terkepung. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Ahad (21/7), UNRWA mendesak Israel untuk mencabut blokade dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk tanpa hambatan.
Sejak pendirian titik distribusi bantuan yang dimiliterisasi dan didukung AS serta Israel oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) pada akhir Mei, hampir 900 warga dilaporkan terbunuh saat mencoba mengakses bantuan, menurut otoritas kesehatan Palestina. Mereka yang mencari makanan sering kali ditembaki, dan sebagian besar korban adalah warga sipil yang tak bersenjata.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat setidaknya 71 anak telah meninggal akibat malnutrisi sejak awal agresi, dan lebih dari 60.000 lainnya menunjukkan gejala kekurangan gizi. Dalam 24 jam terakhir saja, 18 orang dilaporkan meninggal karena kelaparan, termasuk seorang penyandang disabilitas yang tidak mendapat perawatan layak.
Ziad Musleh, seorang ayah pengungsi di Gaza tengah, mengatakan, “Kami sekarat, anak-anak kami sekarat, dan kami tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidur dalam keadaan lapar, perut kosong, dan menangis setiap malam karena kelaparan.”
Kondisi ini dikonfirmasi oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang menyebut warga Gaza menghadapi “kelaparan Katastrofik”. Anak-anak “semakin hari semakin kurus dan sekarat sebelum bantuan bisa menjangkau mereka.”
Direktur Program Pangan Dunia (WFP), Carl Skau, menyebut bencana ini sebagai yang terburuk yang pernah ia saksikan. Dalam kunjungannya ke Gaza City, ia bertemu seorang ayah yang kehilangan 25 kg berat badan hanya dalam dua bulan. “Orang-orang sekarat karena kelaparan, padahal makanan ada di seberang perbatasan,” ujarnya.
Para tenaga medis melaporkan situasi yang kian memburuk. Dr. Mohammed Abu Afash dari Lembaga Bantuan Medis Gaza mengatakan malnutrisi anak telah mencapai tingkat tertinggi. “Hunger is affecting everyone,” ujarnya. “Hari-hari ke depan bisa menjadi bencana jika bantuan tidak masuk.”
Situasi paling genting dialami perempuan hamil dan bayi baru lahir. Dokter Lintas Batas (MSF) melaporkan lonjakan kasus bayi lahir prematur akibat ibu yang kekurangan gizi. Di beberapa rumah sakit, lima bayi terpaksa berbagi tempat dalam satu inkubator. Luka sulit sembuh karena kekurangan protein, dan infeksi bertahan lebih lama dari biasanya. “Ini adalah krisis dalam skala penuh,” ujar Dr. Joanne Perry dari MSF.
Sumber:
https://www.middleeasteye.net/news/gaza-brink-famine-un-says-israel-starving-civilians








