JAKARTA-Di tengah genosida Gaza, tidak ada ruang untuk orang sakit saat ini. Nyaris seluruh rumah sakit di Gaza telah diserang, diperparah dengan krisis obat-obatan dan tenaga kesehatan. Adara tak ingin pasien-pasien di Gaza semakin menderita. Oleh sebab itu, pada tanggal 22 April 2025, Adara menyalurkan bantuan obat-obatan ke Public Aid Society Hospital di Gaza selatan yang memberi manfaat pada 660 orang.

Sejak awal genosida Gaza, sebanyak 22 rumah sakit di Gaza telah berhenti beroperasi karena serangan udara Israel serta pemutusan total pasokan listrik dan bahan bakar. Sebanyak 212 fasilitas medis juga telah rusak akibat serangan Israel, sementara 199 ambulans tidak lagi bisa beroperasi untuk menjemput korban.
Selain runtuhnya rumah sakit, Israel juga menargetkan tenaga kesehatan di Gaza, membuat jumlah dokter dan perawat semakin terbatas sementara setiap harinya jumlah korban yang membutuhkan perawatan terus bertambah. PBB menyatakan bahwa total tenaga kesehatan yang terbunuh di Jalur Gaza sejak awal agresi berjumlah 1.400 jiwa, dan hingga kini Israel masih terus menyerang atau menangkap tenaga kesehatan di Gaza.

Dari hari ke hari, pasien yang membutuhkan perawatan dan obat-obatan semakin banyak di Gaza. Akan tetapi, blokade dan penyerangan yang dilakukan terus menerus telah membuat para pasien semakin menderita. Oleh sebab itu, untuk memenuhi kebutuhan mereka, pada tanggal 22 April 2025, Adara Relief International menyalurkan bantuan obat-obatan ke Public Aid Society Hospital yang memberi manfaat pada 660 orang di Gaza selatan.



Terima kasih Sahabat Adara. Bantuan obat-obatan dari Sahabat Adara telah membantu menyelamatkan ratusan nyawa di Gaza. Semoga bantuan obat-obatan ini akan membasuh rasa sakit yang mereka rasakan dan memulihkan luka-luka saudara kita di Jalur Gaza.








