Saifullah Musallet adalah seorang saudara, anak, dan pemuda penuh mimpi yang baru memulai hidupnya. Namun pada 11 Juli 2025, pemuda berusia 20 tahun asal Florida ini terbunuh akibat dikeroyok oleh pemukim Israel di Desa Sinjil, Tepi Barat. Keluarganya berharap namanya tidak akan lenyap begitu saja dalam daftar panjang warga Palestina-Amerika yang dibunuh tanpa keadilan.
Lahir di Port Charlotte, Florida, Saifullah—yang akrab disapa Saif—memiliki kedekatan kuat dengan tanah leluhurnya. Ia menghabiskan sebagian masa remajanya di Tepi Barat agar lebih memahami budaya dan bahasa ibunya. Namun setelah lulus SMA, ia kembali ke AS dan bersama ayah serta sepupunya membuka toko es krim bernama Ice Screamin di Tampa. Di balik usaha kecil itu, tersimpan ambisi besar untuk membangun bisnis yang lebih luas.
“Dia ingin melakukan segala sesuatu dengan sempurna,” kenang sepupunya, Fatmah Muhammad, yang juga seorang pembuat kue. “Bahkan cara dia menyajikan knafeh buatanku—terlihat lebih menarik daripada aku sendiri.”
Saifullah juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan, hangat, dan penuh cinta kepada keluarga. Ia tak pernah membiarkan tantenya membayar makanan saat bersamanya, dan selalu membawa hidangan penutup ketika berkunjung. Ia adalah pemuda yang aktif dan semangat: gemar menonton film komedi, belanja pakaian, hingga melakukan kunjungan larut malam ke toko.
Beberapa pekan sebelum kematiannya, Saifullah sempat menyampaikan keinginannya untuk menikah. Ia pulang ke Tepi Barat, sementara ayahnya menggantikan posisinya menjaga toko di Tampa. Namun keputusannya itu justru membuat sang ayah berada ribuan kilometer jauhnya ketika putranya dikepung dan dipukuli oleh kelompok pemukim Israel saat mencoba melindungi tanah keluarga.
Menurut keluarganya, para pemukim bahkan menghalangi petugas medis yang datang membantu. Saifullah harus dibawa ke ambulans oleh adiknya sendiri dalam keadaan sekarat. Dalam serangan yang sama, pemuda Palestina lainnya, Mohammed al-Shalabi (23), juga terbunuh setelah dibiarkan berdarah selama berjam-jam.
Kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam sejak Oktober 2023. Menurut Kantor HAM PBB, setidaknya 964 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan dan pemukim Israel sejak saat itu. Saifullah menjadi salah satu dari sedikitnya sembilan warga negara AS yang dibunuh Israel sejak 2022—tanpa satu pun pelaku yang diadili.
Hingga kini, belum ada penyelidikan independen dari AS. Presiden Trump belum berkomentar langsung, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio hanya menyatakan bahwa AS “sedang mengumpulkan informasi.” Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyerukan “penyelidikan agresif”—meskipun ia sendiri dikenal sebagai pendukung keras permukiman ilegal Israel dan menolak keberadaan rakyat Palestina.
Tiga pemukim, termasuk seorang tentara cadangan Israel, sempat ditahan atas pembunuhan itu, namun mereka segera dibebaskan.
Bagi keluarga Saifullah, rasa duka kini berubah menjadi kemarahan. “Dia dibunuh karena berada di atas tanah miliknya sendiri,” ujar sepupunya, Fatmah, lirih. “Aku selalu melihat berita tentang Gaza dan Tepi Barat. Tapi saat hal itu terjadi pada keluargamu sendiri, rasanya tak bisa dijelaskan. Rasa sakitnya melumpuhkan.”
Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2025/7/17/the-love-he-gave-family-vows-to-keep-sayfollah-musallets-memory-alive








