Laporan dari organisasi pembela tahanan Palestina pada Selas menyatakan setidaknya 10.800 warga Palestina, termasuk lebih dari 450 anak-anak, saat ini ditahan di penjara-penjara Israel.
Dalam pernyataan bersama, Commission of Detainees and Ex-Detainees Affairs serta Palestinian Prisoner’s Society (PPS) merinci angka tersebut sebagai berikut:
- 3.629 tahanan administratif (tanpa dakwaan atau proses peradilan)
- 450+ anak-anak
- 50 perempuan, termasuk dua dari Gaza
- 2.445 orang dari Gaza, diklasifikasikan sebagai “kombatan tidak sah”
Sejak dimulainya serangan Israel ke Gaza pada Oktober 2023, jumlah tawanan Palestina meningkat dua kali lipat—dari 5.000 menjadi lebih dari 10.800 orang.
Sejak 1967, pasukan pendudukan Israel telah menangkap sekitar satu juta warga Palestina, atau sekitar 20% dari total populasi Palestina. Artinya, secara statistik, satu dari lima warga Palestina pernah dipenjara oleh Israel.
Organisasi tersebut juga menyoroti lonjakan drastis dalam penggunaan penahanan administratif, yang memungkinkan Israel menahan warga Palestina tanpa dakwaan, tanpa proses hukum, dan tanpa bukti. Jumlah terbaru, yaitu 3.629 tahanan administratif, merupakan yang tertinggi sejak praktik ini digunakan secara luas.
Sementara itu, sejak dimulainya genosida di Gaza, setidaknya 73 tawanan Palestina telah meninggal di penjara Israel—termasuk 45 dari Gaza dan satu anak-anak—angka tertinggi dalam sejarah penahanan Palestina.
Secara total, sejak 1967, 310 tawanan Palestina telah gugur di penjara pendudukan. Namun, banyak identitas syuhada dari Gaza masih dirahasiakan oleh pihak Israel, menjadikan periode ini sebagai tahap paling berdarah dalam sejarah tawanan Palestina.
Israel juga masih menahan jenazah 81 tawanan, termasuk lebih dari 70 yang wafat sejak Oktober 2023. Selain itu, puluhan tawanan dari Gaza masih dinyatakan hilang, tanpa informasi yang jelas mengenai nasib mereka.
Sumber:








