Kekurangan bahan bakar yang parah di Gaza akibat blokade Israel telah mendorong rumah sakit-rumah sakit terbesar di wilayah tersebut ke ambang kehancuran total. Para dokter kini terpaksa menempatkan beberapa bayi prematur dalam satu inkubator demi menyelamatkan nyawa mereka, sementara operasi dilakukan tanpa listrik dan pendingin ruangan, membuat kondisi pasien semakin memburuk.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Dokter Muhammad Abu Salmiyah, menyatakan bahwa nyawa lebih dari 100 bayi prematur dan sekitar 350 pasien cuci darah terancam. “Stasiun oksigen akan berhenti. Laboratorium dan bank darah akan tutup. Rumah sakit ini akan berubah menjadi kuburan sunyi,” ujarnya.
Sejak awal agresi, lebih dari 22 rumah sakit di Gaza telah berhenti beroperasi karena serangan udara Israel serta pemutusan total pasokan listrik dan bahan bakar. Di tengah kondisi ini, Israel hanya memberi pasokan bahan bakar ibarat “tetesan”, yang tak cukup menghidupkan seluruh fasilitas esensial.
Situasi serupa terjadi di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis. Juru bicara rumah sakit, Mohammed Sakr, mengungkapkan bahwa mereka hanya memiliki 3.000 liter bahan bakar, padahal dibutuhkan 4.500 liter bahan bakar per hari. “Kami berada dalam jam-jam terakhir. Dokter berjuang melawan waktu, kematian, dan kegelapan,” katanya.
Video dari dalam rumah sakit menunjukkan tenaga medis berkeringat deras saat melakukan operasi. Keringat bahkan menetes ke luka pasien, meningkatkan risiko infeksi. Dalam gambar memilukan lainnya, enam bayi prematur terlihat ditempatkan dalam satu inkubator, perangkat yang semestinya hanya untuk satu bayi.
Dokter Munir al-Bursh menyebut ini sebagai gambaran dari “keruntuhan total sistem kesehatan Gaza” akibat blokade dan pengeboman. “Ini bukan kelalaian medis, tapi kondisi yang dipaksakan: rumah sakit dibom, alat kesehatan diblokir, bahan bakar diputus total,” katanya.
Menurut WHO, hanya 18 dari 36 rumah sakit umum di Gaza yang masih berfungsi secara parsial. Sistem ambulans, layanan air bersih, dan distribusi bantuan juga nyaris lumpuh. UNICEF menegaskan, tanpa bahan bakar dan obat-obatan, rumah sakit tak dapat lagi berfungsi.
Situasi diperburuk dengan serangan mematikan terhadap warga Palestina yang mencoba mengambil bantuan dari organisasi GHF, yang didukung AS dan Israel namun dikritik oleh PBB karena tidak mematuhi prinsip kemanusiaan. Sejak beroperasi pada 27 Mei, lebih dari 770 warga terbunuh dan 5.100 lainnya terluka saat mencoba mendapatkan bantuan di lokasi distribusi.
Israel juga terus memblokir masuknya bahan bakar ke Gaza selama lebih dari empat bulan. Padahal, menurut laporan IPC, hampir seperempat populasi Gaza kini menghadapi tingkat kelaparan paling ekstrem (Fase 5).
“Meski tenaga medis kami mungkin yang terbaik di dunia, tanpa obat, oksigen, dan bahan bakar, mereka hanya bisa menyaksikan pasiennya perlahan-lahan meninggal,” ujar James Elder dari UNICEF, yang baru kembali dari Gaza.
Blokade Israel, pengeboman tanpa henti, dan penghancuran fasilitas kesehatan telah mengubah rumah sakit dari tempat penyembuhan menjadi tempat kematian yang senyap.
Sumber:
https://qudsnen.co/final-hours-gazan-hospitals-issue-urgent-pleas-amid-fuel-shortages-caused-by-israeli-blockade/
https://www.newarab.com/news/gaza-doctors-cram-babies-incubators-fuel-runs-out








