Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuai kecaman setelah merayakan kehancuran Jalur Gaza dalam agresi genosida yang berlangsung. Dalam unggahan di media sosial, ia menampilkan foto reruntuhan Gaza dan memperingatkan bahwa setelah Rafah, target berikutnya adalah Beit Hanoun.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 90% wilayah permukiman di Rafah telah hancur oleh serangan Israel. Rafah, kota paling selatan Gaza, awalnya menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 1 juta pengungsi internal. Namun, kota ini kini berubah menjadi “contoh paling mengerikan dari genosida dan pembersihan etnis di era modern,” menurut Kantor Media Pemerintah Gaza. Kini, kota Beit Hanoun di Gaza utara juga berada di bawah pengepungan dan pengeboman intensif.
Katz baru-baru ini mengumumkan rencana pembangunan “kota kemanusiaan” yang dikatakan UNRWA sebagai kamp konsentrasi di atas reruntuhan Rafah. Dalam konferensi pers, ia secara terang-terangan mengatakan bahwa tujuan Israel adalah mendorong emigrasi warga Palestina dari Gaza. Rencananya, sekitar 600.000 orang akan dipindahkan secara paksa ke kamp baru yang akan dibangun di kawasan al-Mawasi. Mereka hanya boleh masuk setelah melewati pemeriksaan keamanan dan tidak akan diizinkan keluar.
Katz menyebut ini sebagai fase pertama dari strategi Israel mengendalikan populasi Gaza pascaperang. Proyek ini akan dipimpin oleh Amir Baram, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Israel.
Katz juga mengonfirmasi bahwa Israel sedang mencari negara ketiga untuk menampung warga Palestina yang terusir. “Rencana migrasi ini harus dilaksanakan,” tegasnya, sambil menyatakan bahwa Israel tidak akan mendistribusikan makanan ataupun mengelola kota secara langsung, melainkan mengandalkan lembaga internasional.
Meskipun Kepala Staf Israel Herzi Halevi menyangkal rencana terkait pemindahan paksa, surat perintah militer yang bocor dan dikonfirmasi keasliannya oleh Haaretz menyebutkan bahwa “mengumpulkan dan memindahkan penduduk” merupakan tujuan utama operasi militer saat ini.
Organisasi HAM dan pakar kemanusiaan menilai rencana ini sebagai bentuk pembersihan etnis terselubung dengan kedok keamanan dan bantuan. Amnesty International dan berbagai pihak memperingatkan bahwa langkah ini melanggar hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Rencana Israel ini muncul di tengah laporan lain mengenai kerja sama Israel-AS melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang juga menyusun rencana membangun zona transit kemanusiaan di dalam dan luar Gaza—dengan tujuan yang sama: mengusir warga Palestina dari tanah mereka dan mengungsikan mereka ke tempat lain.
Sumber:
https://qudsnen.co/after-rafah-beit-hanoun-israeli-minister-celebrates-gaza-destruction/








