Israel berencana membangun “kota kemanusiaan” tertutup di Gaza selatan selama gencatan senjata 60 hari. Kawasan ini dirancang menampung 600.000 pengungsi Gaza, namun disinyalir sebagai upaya relokasi massal yang dapat mencakup seluruh penduduk Gaza. Warga akan disaring keamanannya dan dilarang keluar setelah masuk.
Rencana ini menuai kecaman luas. UNRWA menyebutnya “kamp konsentrasi besar”, dan Inggris menegaskan warga Palestina harus bisa kembali ke komunitas asalnya. Di dalam Israel, Kepala Staf Militer Eyal Zamir dan sejumlah pejabat keamanan menolak rencana ini, khawatir mengalihkan fokus dari perang dan membuka jalan bagi pendudukan ulang.
Biaya proyek yang mencapai 3–6 miliar dolar AS memicu kemarahan publik. Oposisi menyebutnya “khayalan ekstremis” demi stabilitas politik Netanyahu. Sementara itu, pemerintah Palestina dan Hamas menilai ini sebagai awal pemindahan paksa ke luar Palestina. Amnesty International memperingatkan, relokasi paksa merupakan kejahatan perang.
Pakar Israel Michael Milshtein menyebut proyek ini sebagai “fantasi politik” tanpa infrastruktur, dan memperingatkan dampak sosial jika publik menyadari tujuan akhir perang adalah pendudukan kembali Gaza.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israeli-plan-move-gazans-closed-zone-triggers-backlash








