Selama ini, wacana geopolitik yang mendominasi panggung global banyak bersumber dari dunia Barat. Teori-teori besar seperti Heartland Theory milik Mackinder atau Rimland Theory dari Spykman lahir dari konteks peradaban Barat dan didorong oleh kepentingan kolonialisme serta dominasi global. Teori-teori ini tidak berasal dari realitas dunia Timur, apalagi dari pengalaman umat Islam. Namun, justru masih digunakan dan dijadikan acuan oleh banyak kalangan di dunia Islam saat ini.
Selama ini, teori-teori geopolitik dari Barat jarang mempertimbangkan sejarah panjang dan peran penting dunia non-Barat, termasuk umat Islam. Akibatnya, banyak Muslim yang lupa akan posisi strategis wilayahnya sendiri dalam sejarah. Hubungan umat dengan warisan pemikirannya pun jadi terputus. Ziaudin Sardar (2003) menyebut, ketika teori-teori Barat terus diajarkan dan dipakai tanpa kritik, umat Islam menjadi terlalu bergantung pada cara berpikir luar. Hal ini membuat mereka hanya menjadi pengguna teori orang lain, bukan pencipta gagasan dari pengalaman dan pandangan mereka sendiri.
Padahal, dalam sejarah Islam, terdapat pandangan geopolitik yang khas dan berakar pada nilai-nilai wahyu serta pengalaman peradaban. Langkah-langkah politik Nabi Muhammad saw. dalam membangun kekuatan Islam, seperti Piagam Madinah, Perjanjian Hudaibiyah, dan pengiriman surat kepada kekaisaran regional seperti Romawi dan Persia—merupakan contoh nyata penerapan strategi geopolitik Islam yang cermat. Strategi tersebut tidak hanya mempertimbangkan posisi geografis dan dinamika politik, tetapi juga berlandaskan pada visi kenabian dan nilai-nilai etis Islam. Seperti yang juga dikutip Martin Lings (1983) dalam bukunya, bahwa
“The letters sent to the Byzantine and Persian emperors marked the beginning of a transregional political vision grounded in the prophetic mission.”
“Surat-surat yang dikirimkan kepada kaisar Bizantium dan Persia menandai awal dari visi politik lintas wilayah yang berlandaskan pada misi kenabian.”
Salah satu upaya kontemporer untuk menghidupkan kembali pemikiran geopolitik Islam adalah melalui teori yang dikembangkan oleh Profesor Abd al-Fattah El-Awaisi, seorang pakar Hubungan Internasional dan penggagas Islamicjerusalem Studies. Menurutnya, geopolitik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh struktur geografis dan sejarah suatu wilayah terhadap arah dan kebijakan politiknya, terutama dalam konteks hubungan internasional.
Terkait dengan geopolitik Baitul Maqdis, dalam karyanya Introducing the New Terminology of Islamicjerusalem and Its Field of Inquiry (2018), Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi menjelaskan bahwa wilayah geografis Baitul Maqdis terdiri dari tiga elemen utama yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. Pertama, aspek geografis atau tanahnya; kedua, penduduknya, yaitu mereka yang tinggal atau pernah tinggal di wilayah tersebut; dan ketiga, visi atau pandangan untuk mengelola serta memerintah tanah dan penduduknya. Ketiga unsur ini tidak bisa dipisahkan dan saling terhubung. Selain itu, ketiga elemen tersebut juga berkaitan erat dengan konteks historis wilayahnya. Dalam perspektif geografi sejarah juga disebutkan jika geografi adalah panggung, maka sejarah adalah pertunjukannya.
Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi adalah cendekiawan Muslim terkemuka asal Baitul Maqdis, ahli Hubungan Internasional, dan penggagas Kajian Islamicjerusalem. Ia telah mengajar dan meneliti selama lebih dari 35 tahun di berbagai universitas di dunia Arab, Barat, Malaysia, dan Turki. Ia dikenal karena kontribusinya dalam mengembangkan teori geopolitik Islam, seperti Barakah Circle Theory dan Aman Theory, serta memiliki 67 publikasi ilmiah dalam berbagai bahasa dan pengalaman membimbing serta menguji puluhan tesis. Sebagai pendiri Journal of Islamicjerusalem Studies dan konferensi tahunan Islamicjerusalem sejak 1997, Prof. El-Awaisi telah menerima berbagai penghargaan internasional atas dedikasinya dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Artikel ini bertujuan memperkenalkan secara singkat pendekatan geopolitik alternatif yang bersumber dari pengalaman dan perspektif Islam, yakni Teori Lingkaran Berkah Baitul Maqdis (Barakah Circle Theory), sebuah model geopolitik yang menempatkan Baitul Maqdis sebagai pusat spiritual dan strategis dunia Islam yang diinisiasi oleh Prof. El Awaisi. Teori ini tidak hanya menawarkan pembacaan ulang terhadap pentingnya kawasan tersebut, tetapi juga merumuskan kerangka kerja geopolitik berbasis nilai, sejarah kenabian, dan kesatuan wilayah umat Islam.
Penjelasan ini berasal dari notula penulis saat mengikuti Saladin Camp yang dimentori langsung oleh beliau ditambah dengan sumber tertulis lain yang diperoleh dari buku, jurnal dan artikel. Untuk eksplorasi lebih lanjut, teori ini dapat ditelaah dalam bukunya yang berjudul Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa.
Baitul Maqdis: Tanah yang Diberkahi, Tanah yang Disucikan

Pemandangan bagian utara dari Desa Battir, Tepi Barat.
(Sumber: Jasmine Desclaux-Salachas via placesjournal.org)
Dalam perspektif Qur’ani, barakah atau keberkahan adalah anugerah Ilahi yang bermakna pertumbuhan, kelimpahan, keberlangsungan, dan kebaikan yang menetap dalam ruang atau waktu tertentu. Allah SWT memberikan barakah tidak hanya pada waktu tertentu, seperti pada Ramadan dan malam Lailatulqadar tetapi juga bagi pribadi-pribadi pilihan seperti para nabi, syuhada, dan ulama, serta pada tempat-tempat tertentu yang ditinggikan derajatnya, salah satunya Baitul Maqdis.
Tempat ini tidak hanya suci bagi rakyat Palestina, tetapi juga bagi seluruh umat Muslim di dunia. Baitul Maqdis memiliki karakter geografis yang unik dan sejak zaman prasejarah, telah menjadi sasaran migrasi serta invasi dari berbagai kekuatan. Hal ini disebabkan oleh kekayaan sejarahnya, letaknya yang strategis, dan keberadaannya sebagai tempat suci tiga agama. Kota suci Al-Quds (Yerusalem) yang menaungi Baitul Maqdis telah menjadi pusat konflik keagamaan sepanjang sejarah karena posisinya yang penting bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi.
Untuk memahami bagaimana keberkahan Baitul Maqdis terhubung dengan wilayah-wilayah sekitarnya, Profesor Abd al-Fattah El-Awaisi menawarkan sebuah kerangka geopolitik yang dikenal sebagai Teori Lingkaran Keberkahan. Teori ini menjelaskan bagaimana barakah di Baitul Maqdis tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan dinamika kawasan sekitarnya dalam tiga lingkaran strategis.
Lingkaran Pertama adalah Baitul Maqdis itu sendiri, wilayah yang diberkahi karena alasan spiritual dan wahyu ilahi, bukan semata karena kekayaan alam atau letak geografisnya. Lingkaran Kedua mencakup Bilad al-Sham dan Mesir—wilayah yang secara langsung memengaruhi stabilitas dan keamanan Baitul Maqdis. Persatuan kawasan ini dianggap kunci untuk mempertahankan Baitul Maqdis. Terakhir, Lingkaran Ketiga mencakup kawasan yang lebih luas seperti Hijaz (Makkah dan Madinah), Turki, Irak, hingga sebagian Afrika Utara dan Teluk. Kawasan ini memiliki nilai strategis dari sisi perdagangan, militer, dan spiritual, serta berperan penting dalam menentukan arah kebijakan dan kekuatan dunia Islam terkait Baitul Maqdis.
Lingkaran Pertama: Tanah yang Disucikan (al-Ardh al-Muqaddasah)

Berdasarkan Teori Lingkaran Barakah, Lingkaran Pertama mencakup wilayah Baitul Maqdis yang memiliki lokasi geografis luar biasa, topografi beragam, iklim Mediterania, serta lahan pertanian yang subur. Namun, Prof. El-Awaisi menegaskan bahwa pentingnya wilayah ini bukan hanya karena faktor alam atau manusia, melainkan karena peran wahyu Ilahi. Baginya, ini adalah tanah para nabi dan dianggap sebagai sumber keberkahan spiritual oleh umat Islam, Kristen, dan Yahudi.
Penentuan batas wilayah Tanah yang Disucikan (al-Ardh al-Muqaddasah) sangat penting untuk memahami nilai strategis, spiritual, dan historisnya. Selama ini, banyak orang mengira bahwa Baitul Maqdis hanya merujuk pada Kota Tua Al-Quds (Yerusalem), padahal penelitian menunjukkan bahwa wilayah ini jauh lebih luas, mencakup kota-kota besar, kecil, serta desa-desa. Dari sudut pandang sejarah, Khalifah Abu Bakar ra. pernah memerintahkan pembebasan Palestina dan *Aelia (Yerusalem), yang menandakan bahwa Aelia adalah bagian dari Palestina yang lebih luas. Pada masa Daulah Utsmaniyah, wilayah administratif Yerusalem (Mutasarrifate Jerusalem) bahkan mencakup Yaffa, Hebron (Al-Khalil), Gaza, dan Beersheba.
Sejak 1996, sejumlah ilmuwan seperti Dr. Haithem Fathi al-Ratrout, Dr. Utsman Al-Tal, dan Dr. Khalid El-Awaisi meneliti batas geografis Baitul Maqdis secara serius. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah ini membentang hingga 40 mil Arab (sekitar 85 km) dari pusat Yerusalem ke segala arah, bahkan mencapai Ramla dan pesisir Laut Tengah (Mediterania). Prof. El-Awaisi menegaskan bahwa batas ini bukan batas administratif yang berubah-ubah, melainkan batas tetap yang ditetapkan sejak penciptaan, sebagaimana halnya Tanah Haram di Mekah dan Madinah.
Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 21), wilayah ini sudah disebut sebagai Tanah Suci bahkan sebelum zaman Nabi Musa as. Dengan demikian jelaslah bahwa Baitul Maqdis bukan sekadar kota, melainkan sebuah wilayah luas yang memiliki peran penting secara keagamaan, sosial, budaya, politik, dan ekonomi, serta terletak strategis di persimpangan tiga benua dan berhubungan erat dengan wilayah Syam, Mesir, Hijaz, dan Siprus.
Lingkaran Kedua: Tanah yang Diberkahi (Al-Ardh al-Mubarakah)

Peta lingkaran kedua menunjukkan wilayah Tanah yang Diberkahi meliputi wilayah Mesir Syam dan Siprus. (Sumber: Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa)
Jika lingkaran pertama berkutat pada inti Tanah yang Disucikan (al-Ardh al-Muqaddasah), maka lingkaran kedua mencakup daerah-daerah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai tanah yang diberkahi di sekitarnya (al-Ardh al-Mubarakah). Lingkaran Kedua mencakup wilayah Negeri Syam dan Mesir. Bilad Al-Syam (Levantina atau kawasan Suriah historis) meliputi wilayah Palestina masa kini serta sebagian besar Lebanon, Yordania, dan Suriah. Keamanan dan stabilitas Baitul Maqdis sangat bergantung pada keterkaitannya dengan wilayah Lingkaran Kedua. Dengan kata lain, untuk menjaga Baitul Maqdis, diperlukan kesatuan antara Mesir dan Suriah.
Sebagian besar ulama tafsir mengaitkan frasa “tanah yang diberkahi” dalam Surah Al-Isra’ ayat pertama dengan wilayah Syam, tetapi Prof. El Awaisi dalam bukunya menjelaskan bahwa mereka cenderung mengabaikan bagian selatan lingkaran berkah yang juga mengelilingi Masjid Al-Aqsa. Berdasarkan Teori Lingkaran Keberkahan, lingkaran kedua ini tidak hanya mencakup Syam, tetapi juga bagian penting dari Mesir, Siprus, dan sebagian kecil Jazirah Arab, seperti Tabuk.
Peta yang ditampilkan menunjukkan bahwa kota-kota seperti Alexandria dan Aleppo berada dalam garis keberkahan yang sama, menandakan kesetaraan kedudukan spiritual dan geopolitik keduanya, sebagaimana dicontohkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang menjadikan keduanya basis strategis dalam pembebasan Baitul Maqdis. Setelah lima tahun penelitian, Prof. El-Awaisi dalam bukunya Egypt and the Palestinian Question before 1936. menyimpulkan bahwa Mesir dan Syam memiliki hubungan organik dan strategis yang erat sepanjang sejarah, yaitu berupa keamanan yang saling bergantung.
Hal ini dibuktikan dalam sejarah, misalnya saat Daulah Utsmaniyah menguasai Syam lewat Pertempuran Marj Dabiq (1516) sebelum merebut Mesir (1517), atau ketika Napoleon menguasai Mesir (1798) lalu menyerbu Palestina (1799). Dalam bukunya pula, Doktor Sarah El-Awaisi menegaskan bahwa sejak Perang Salib Kelima, musuh-musuh Islam menyadari bahwa untuk menguasai Baitul Maqdis, mereka harus terlebih dahulu menundukkan Mesir, yang menjadi gerbang masuk ke Tanah Suci.
Bahkan di masa ketidakstabilan Kesultanan Ayyubiyah pasca wafatnya Salahuddin, tetap ada kesadaran kuat akan posisi vital Mesir, yang disebut Sultan Saleh Najmuddin Ayyub sebagai “kursi kekuasaan”, sebab menguasainya berarti menguasai seluruh Timur. Dalam wasiatnya kepada putranya, Turan Syah, ia menekankan pentingnya benteng Karak sebagai pelindung strategis Mesir dari serangan luar, serta sebagai simbol kekuatan dan ketahanan. Sarah El-Awaisi menyimpulkan bahwa stabilitas Mesir dan Syam adalah kunci bagi keamanan dan kelestarian Baitul Maqdis, keduanya saling menentukan dan saling menjaga dalam lanskap geopolitik kawasan.
Lingkaran Ketiga: Kawasan Timur Arab dan Islam

Dalam Teori Lingkaran Barakah Baitul Maqdis yang digagas oleh Prof. Abd al-Fattah El-Awaisi, Lingkaran Ketiga mencakup kawasan luas yang sangat penting bagi strategi kebangkitan dan pembebasan dunia Islam. Wilayah ini meliputi Hijaz (termasuk Makkah dan Madinah), seluruh Irak dan Turki, sebagian besar wilayah Mesir hingga Aswan, serta sebagian kecil wilayah Libya, Sudan, Kuwait, dan Iran.
Prof. El-Awaisi menekankan bahwa terdapat keterkaitan spiritual dan geopolitik yang kuat antara Ka’bah di Makkah dan Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis. Bahkan, secara geografis, Makkah dan Istanbul berada pada garis lintang yang sama, dengan jarak yang setara dari Masjid al-Aqsa. Keselarasan ini menandakan bahwa ketiganya, yaitu Makkah, Baitul Maqdis, dan Istanbul, menerima kadar keberkahan yang seimbang dari apa yang disebutnya sebagai “Pusat Keberkahan.” Maka, kerja sama antara ketiga kota ini bukan hanya penting secara simbolik, melainkan juga strategis dalam menyongsong pembebasan Baitul Maqdis.
Lingkaran Ketiga juga mencakup wilayah-wilayah laut strategis, seperti Laut Merah, Laut Tengah, Laut Hitam, Laut Aegea, dan Teluk Arab. Kawasan ini berada di persimpangan jalur perdagangan dunia dan menjadi titik penting dalam perumusan kebijakan luar negeri yang berkaitan dengan masa depan Baitul Maqdis.
Hubungan Historis: Baitul Maqdis, Makkah, dan Istanbul
Keterkaitan antara bagian utara Lingkaran Ketiga (Istanbul) dan bagian selatan (Makkah), dengan pusatnya di Baitul Maqdis, menunjukkan hubungan historis yang mendalam—terutama antara Turki dan kota suci tersebut. Sejak sebelum penaklukan Konstantinopel, Daulah Utsmaniyah telah menunjukkan perhatian serius terhadap Baitul Maqdis:
- Tahun 1458: Sultan Mehmed II mengeluarkan dekrit perlindungan terhadap umat Nasrani di Baitul Maqdis berdasarkan Piagam Umar, meski saat itu wilayah tersebut belum berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah.
- Tahun 1516: Sultan Selim I memimpin ekspedisi ke wilayah Timur Arab dan berhasil menyatukan Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis di bawah kendalinya. Ketika memasuki Masjid Al-Aqsa, ia berkata, “Segala puji bagi Allah, hari ini aku adalah pelindung kiblat pertama.”
- Tahun 1538–1541: Pada masa pemerintahan Sultan Suleiman al-Qanuni, Baitul Maqdis direnovasi secara besar-besaran, termasuk pembangunan kembali tembok Kota Tua, pembangunan saluran air dari Betlehem, serta pembangunan madrasah, sabil (mata air), dan proyek arsitektur lainnya.
- Awal abad ke-20: Sultan Abdul Hamid II menolak permintaan pendirian negara Yahudi di Palestina, meskipun di bawah tekanan berat. Penolakannya membuat ia digulingkan, menjadikannya penguasa Muslim pertama di abad ke-20 yang rela kehilangan kekuasaan demi mempertahankan Baitul Maqdis.
Turki modern pun kembali menunjukkan perhatian terhadap Baitul Maqdis, khususnya sejak tahun 2002. Melalui jalur diplomasi, bantuan kemanusiaan, pendidikan, hingga media, Turki berupaya membangun kembali hubungan spiritual dan historis masyarakatnya dengan tanah suci tersebut.
Empat Poros Kekuatan Lingkaran Ketiga
Lingkaran Ketiga bukan hanya wilayah strategis secara geografis, tetapi juga menjadi poros penting dalam proyek pembebasan Baitul Maqdis dan kebangkitan dunia Islam. Terdapat empat negara yang menjadi pusat kekuatan utama yang memainkan peran signifikan dalam dinamika militer, spiritual, dan geopolitik:
- Turki
Sebagai negara yang pernah menjadi pusat dari Khilafah Utsmaniyah, Turki memiliki potensi besar dalam aspek militer modern dan menjadi simbol kebangkitan identitas Islam. Kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid menunjukkan arah transformasi spiritual dan politik negara ini. - Irak
Terletak di antara Syam dan Persia, Irak secara historis merupakan pusat ilmu dan kekuasaan Islam, khususnya di era Abbasiyah. Kini, Irak memiliki potensi untuk menjadi pusat jaringan pemikiran, perlawanan, dan kebangkitan kembali. - Mesir
Dikenal sebagai poros kekuatan dunia Arab, Mesir masuk dalam dua lingkaran keberkahan sekaligus—spiritual dan geopolitik. Dalam sejarah, kekuatan Mesir sangat menentukan kekuatan kawasan Arab. Namun, pengaruh asing kini telah membungkam peran strategisnya. - Syam
Wilayah Syam (Palestina, Suriah, Lebanon, Yordania) memiliki posisi eskatologis penting dalam hadis-hadis akhir zaman. Peristiwa jatuhnya rezim Assad pada 8 Desember 2024 dan dilantiknya perdana menteri baru yang langsung mengimami Salat al-Fath di wilayah perbatasan menjadi simbol awal kebangkitan dari arah Syam.
Posisi Indonesia: Lingkaran Dukungan dan Bantuan

Pertanyaan mengenai apakah Indonesia memiliki peran dalam perjuangan pembebasan Baitul Maqdis bukanlah pertanyaan sepele—melainkan pertanyaan penting yang membutuhkan kajian mendalam dari sudut pandang keislaman, geopolitik, dan sejarah. Dalam kerangka keberkahan yang dijelaskan dalam perspektif Al-Qur’an dan teori Barakah, Baitul Maqdis bukan hanya diberkahi untuk wilayah sekitarnya, tetapi juga memiliki pengaruh spiritual yang memancar ke seluruh dunia Islam, bahkan hingga ke Nusantara.
Seperti hidayah dari Makkah yang telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, berkah dari Baitul Maqdis pun menjangkau kawasan seperti Indonesia. Maka, kehadiran Indonesia dalam perjuangan pembebasan Baitul Maqdis tidak hanya mungkin, tetapi justru sangat strategis, terutama dalam fase persiapan keilmuan, atau yang dalam teori Prof. El-Awaisi disebut sebagai ‘Idad Ma‘rifiyah.
Dalam Teori Lingkaran Barakah, setelah fase penguatan internal dan perluasan pengaruh dalam lingkaran ketiga (yang melibatkan kawasan Timur Islam seperti Turki, Irak, Mesir, dan Syam), perjuangan akan memasuki fase penting berikutnya, yaitu fase pembangunan basis keilmuan yang kokoh sebagai fondasi kebangkitan umat secara global. Fase ini menuntut stabilitas, ketenangan, dan ruang yang relatif jauh dari konflik langsung dan semua syarat ini dimiliki oleh Indonesia.
Letak geografis Indonesia yang jauh dari pusat konflik dunia Islam justru menjadi keunggulan. Negara ini memiliki ruang untuk berpikir, meneliti, dan membangun narasi keilmuan secara mendalam dan menyeluruh. Dengan demikian, Indonesia memiliki posisi ideal untuk menjadi pusat ‘Idad Ma‘rifiyah, yakni persiapan ilmu, pendidikan, literasi, dan penyusunan strategi dakwah dan geopolitik jangka panjang.
Selama ini, wacana geopolitik global didominasi perspektif Barat yang lahir dari konteks kolonialisme. Teori Lingkaran Berkah Baitul Maqdis karya Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi hadir sebagai alternatif, dengan pendekatan berbasis wahyu, sejarah kenabian, dan realitas umat Islam. Teori ini membagi kawasan strategis ke dalam tiga lingkaran: Tanah yang Disucikan, Tanah yang Diberkahi, dan Kawasan Strategis Islam Timur—meliputi kota-kota seperti Al-Quds, Kairo, Damaskus, Istanbul, Makkah, dan Madinah.
Meski di luar lingkaran itu, Indonesia punya peran penting dalam fase ‘Idad Ma‘rifiyah (persiapan keilmuan) untuk membebaskan Baitul Maqdis. Sebagai negara Muslim terbesar dengan warisan antikolonial dan tradisi keilmuan, Indonesia berpotensi menjadi poros utama perjuangan ini lewat jalur ilmu dan peradaban.
*Aelia adalah nama yang diberikan Romawi untuk Yerusalem dan wilayah sekitarnya setelah dihancurkan pada abad ke-2 M. Nama ini dipakai dari masa Kaisar Hadrian hingga penaklukan oleh Umar bin Khattab. Dalam sejarah Islam awal, Aelia merujuk pada wilayah luas sekitar Yerusalem, termasuk Nablus, Mu’ab, dan Hebron.yang masih dipakai dalam catatan Muslim awal sebelum diganti dengan Baitul Maqdis atau al-Quds.
Yunda Kania Alfiani, S.Hum
Penulis merupakan anggota Departemen Research and Development Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Ilmu Sejarah, FIB UI.
Referensi:
El-Awaisi, Abd Al-Fattah. 2025. Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa. Jakarta: Suara Muhammadiyah.
Introducing the New Terminology of Islamicjerusalem and Its Field of Inquiry
Egypt and the Palestinian Question before 1936
The First Islamic Conquest of Aelia (Islamic Jerusalem): A Critical Analytical Study of the Early Islamic Historical Narratives and Sources
Mapping Islamic Jerusalem: A Rediscovery of Geographical Boundaries








