Dalam sebuah kesaksian yang menggambarkan betapa mengerikannya dampak perang Israel di Gaza, Lina Abu Safiya—istri dari dokter anak yang ditahan, Dr. Hussam Abu Safiya—mengungkapkan kisah menyayat hati tentang penangkapan suaminya dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara.
Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, Lina menyebut suaminya sebagai seorang dokter yang penuh dedikasi. Ia menolak meninggalkan pasien-pasiennya, bahkan ketika kesempatan langka untuk keluar dari Gaza sebenarnya terbuka.
“Dia bisa saja ikut bersama saya ke Kazakhstan,” ujar Lina, yang berasal dari negara tersebut. “Tapi dia berkata, ia tidak bisa meninggalkan pasien dan rekan-rekannya. Menurutnya, pergi berarti mengkhianati tugas kemanusiaannya.”
Dr. Hussam Abu Safiya adalah spesialis pediatri dan neonatologi sekaligus Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan. Ia tetap berada di rumah sakit sepanjang agresi, memberikan perawatan medis di tengah gempuran tanpa henti dan keterbatasan ekstrem—baik dari segi obat, alat, maupun pasokan listrik.
Namun pada 27 Desember 2024, pasukan Israel menyerbu rumah sakit dan menangkap Dr. Abu Safiya.
Menurut Lina, sebelumnya, lembaga-lembaga kemanusiaan internasional telah mengatur jalur evakuasi aman bagi para staf medis di rumah sakit tersebut. Namun, janji itu tidak ditepati. Keesokan harinya, sejumlah dokter datang ke rumahnya untuk memberitahu bahwa suaminya telah ditangkap. Sejak itu, tak ada kabar sama sekali mengenai keberadaannya.
“Saya tidak tahu apa pun—di mana dia, apakah dia masih hidup, apakah dia baik-baik saja,” ucap Lina dengan suara lirih. “Setiap hari saya mengikuti berita dan hanya merasakan ketakutan dengan cerita-cerita tentang kondisi para tawanan di penjara-penjara Israel.”
Penangkapan Dr. Abu Safiya terjadi di tengah kampanye militer Israel yang telah menghancurkan sektor kesehatan Gaza. Rumah sakit dibom, dan puluhan tenaga medis ditangkap atau dibunuh.
Lina dan Dr. Hussam adalah orang tua dari enam anak—sekarang tinggal lima. Anak mereka, Elias, gugur dalam serangan udara Israel di dekat rumah sakit.
“Kami menemukannya di antara para korban luka, ia telah syahid. Itu adalah momen paling memilukan dalam hidup saya,” kenangnya.
Kini, di tengah duka dan ketidakpastian, Lina menyerukan kepada komunitas internasional untuk bertindak. “Ini bukan lagi agresi,” tegasnya. “Ini genosida—terhadap warga sipil, terhadap dokter, terhadap kami semua.”
Ia mendesak organisasi HAM internasional, asosiasi medis, dan lembaga global untuk segera turun tangan demi pembebasan suaminya dan penghentian sistematis penargetan terhadap tenaga medis di Gaza.








