Jalur Gaza berada di titik nadir krisis kemanusiaan. Dana Kependudukan PBB (UNFPA) memperingatkan bahwa sebanyak 50.000 ibu hamil dan menyusui di Gaza mengalami kelaparan ekstrem selama berhari-hari. Anak-anak mereka menghadapi risiko serius: lahir prematur, berat badan rendah, kematian, serta gangguan kesehatan seumur hidup.
“Para ibu terlalu kekurangan gizi untuk menyusui, sementara susu formula sudah tidak tersedia,” tulis UNFPA di media sosial. Situasi ini, menurut badan PBB tersebut, sesungguhnya bisa dicegah — asalkan bantuan kemanusiaan benar-benar diizinkan masuk.
Namun kenyataannya, bantuan kemanusiaan terus diblokade. Otoritas pendudukan Israel telah menutup akses bagi truk bantuan sejak awal Maret 2024, hanya mengizinkan beberapa lusin truk masuk setiap harinya — itu pun sering dijarah oleh kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Israel. Padahal, dibutuhkan sedikitnya 500 truk per hari untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum warga Gaza.
UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, melaporkan bahwa selama lebih dari empat bulan terakhir, Israel tidak mengizinkan satu pun bantuan kemanusiaan mereka masuk ke Gaza. Dalam sebuah video yang dirilis di platform X, UNRWA menunjukkan gudang di Mesir yang menyimpan ratusan ribu selimut, matras, terpal, serta barang-barang kebersihan seperti sabun dan sampo—barang-barang dasar yang sangat dibutuhkan warga Gaza, namun tidak pernah sampai ke tangan mereka.
“Warga Gaza sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan yang telah diblokade selama lebih dari empat bulan. Waktu hampir habis,” tegas UNRWA.
Direktur Sementara UNRWA di Gaza, Sam Rose, menambahkan bahwa hampir tiga perempat juta orang telah mengungsi sejak Maret 2024 dan kini “tidak memiliki apa-apa”. Sementara itu, lebih dari 90 persen keluarga tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman akibat kekurangan bahan bakar yang melumpuhkan sistem distribusi air.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyampaikan peringatan keras. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut kelangkaan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan telah membunuh warga sipil, terutama anak-anak. “Tempat yang aman sudah tidak ada lagi,” tambahnya.
Kondisi di Gaza terus memburuk sejak agresi Israel dimulai pada 7 Oktober 2023. Genosida yang dilakukan dengan dukungan penuh Amerika Serikat ini mencakup pengeboman tanpa pandang bulu, pengusiran massal, kelaparan sistematis, dan penargetan situs bantuan kemanusiaan. Hasilnya sangat tragis: lebih dari 194.000 warga Palestina telah terbunuh atau terluka—mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 11.000 orang masih hilang di bawah reruntuhan, dan kelaparan terus merenggut nyawa setiap hari.
Sumber:
https://qudsnen.co/50000-pregnant-and-breastfeeding-women-starving-in-gaza-un-warns/
https://www.palestinechronicle.com/newborns-at-risk-as-50000-pregnant-breastfeeding-women-starve-in-gaza/








