Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa hampir satu dari tiga warga Gaza tidak makan selama beberapa hari, sementara sebagian besar keluarga hanya bertahan hidup dengan satu kali makan sehari. Krisis ini merupakan dampak langsung dari serangan berkelanjutan Israel dan hambatan terhadap distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Menurut Program Pangan Dunia (WFP), makanan yang berhasil diperoleh warga pun sangat minim nilai gizinya—hanya berupa kuah encer, lentil atau nasi, sepotong roti, atau sekadar campuran rempah dan minyak zaitun yang dikenal sebagai duqqa. Banyak orang dewasa rela melewatkan makan agar anak-anak, lansia, dan yang sakit bisa mendapat jatah lebih. Meski demikian, sejak Januari, rata-rata 112 anak per hari dirawat karena malnutrisi akut.
Dalam konferensi pers pada Senin (8 Juli), juru bicara PBB Stéphane Dujarric menyampaikan keprihatinan atas terus ditolaknya akses kemanusiaan oleh otoritas Israel—yang disebut sebagai kekuatan pendudukan oleh PBB. Dari delapan permintaan koordinasi yang diajukan pada hari Minggu, tiga di antaranya ditolak, menghambat operasi penyelamatan yang sangat penting.
Dujarric menegaskan bahwa Israel harus membuka semua jalur penyeberangan, menjamin akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan melindungi warga sipil sebagaimana diatur dalam hukum humaniter internasional. Ia juga menekankan bahwa bahan bakar adalah kebutuhan hidup di Gaza dan harus diizinkan masuk tanpa penundaan lebih lanjut.
Kondisi kelaparan yang parah memaksa warga untuk mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan makanan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak 27 Mei, 549 warga Palestina terbunuh dan 4.066 terluka saat mencoba mengakses bantuan pangan. Sebagian besar korban tertembak atau terkena ledakan saat mendekati lokasi distribusi bantuan AS-Israel yang sengaja ditempatkan di zona militer.
“Anak-anak kami menangis kelaparan. Kami tidak bisa tidur. Kami berjalan, menunggu, dan berharap bisa pulang kembali,” ujar seorang warga Palestina kepada WFP.
Situasi ini semakin memburuk karena bantuan dari Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF)—yang didukung AS dan Israel—seringkali melewati mekanisme PBB dan LSM yang sudah ada, dan justru membahayakan penerima bantuan karena lokasi distribusinya tidak aman.
Sumber:
https://www.#/20250708-1-in-3-people-in-gaza-has-not-eaten-for-days-says-un/
https://news.un.org/en/story/2025/06/1164951#:~:text=Most%20families%20in%20the%20Gaza,Programme%20(WFP)%20and%20partners.








