Israel tengah berlomba dengan waktu untuk mengosongkan Gaza utara sebelum tercapainya kesepakatan gencatan senjata, menurut sumber dari faksi-faksi Palestina. Israel disebut berusaha menghabiskan sisa waktu sebelum gencatan senjata untuk memperluas skala penghancuran, menghancurkan infrastruktur penting, dan menghalangi kemungkinan kembalinya warga Palestina ke wilayah tersebut.
Sejak Mei, Israel melancarkan operasi militer Gideon’s Chariots, yang mencakup evakuasi total warga dari Gaza utara. Rencana ini bertujuan memindahkan warga ke tiga wilayah sempit di pesisir: barat Kota Gaza, barat wilayah tengah, dan barat Khan Younis di selatan. Ketiga wilayah itu kini terisolasi dan perpindahan antarwilayah serta diwarnai ancaman tembakan dan pengeboman.
Diperkirakan, wilayah yang kini dihuni para pengungsi Palestina hanya mencakup kurang dari 15% dari total luas Gaza. Media publik Israel, KAN, menyebut operasi ini akan berlangsung berbulan-bulan dengan target evakuasi penuh seluruh penduduk dari zona militer.
Dalam sepekan terakhir, militer Israel meningkatkan serangan ke berbagai wilayah Gaza guna mencegah warga kembali ke utara. Pada 30 Juni, empat sekolah yang menjadi tempat pengungsian dibom. Serangan-serangan ini mendorong warga untuk tinggal di tenda-tenda darurat di sepanjang pantai tanpa fasilitas dasar. UNRWA melaporkan bahwa 85% wilayah Gaza kini menjadi zona militer atau di bawah perintah evakuasi.
Warga juga melaporkan 20–30 ledakan besar setiap hari, terutama akibat penghancuran rumah di Gaza utara dan timur. Sebuah video dari kontraktor Israel memperlihatkan kehancuran besar di Tel al-Zaatar dan Kota Sheikh Zayed.
Sumber Palestina menyebut bahwa Israel sedang mengintensifkan operasi untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus: memperkuat kendali atas zona penyangga, menekan Hamas lewat kekuatan militer, dan membentuk realitas baru pascaperang, termasuk pemindahan paksa warga.
Media Israel seperti Maariv dan Channel 12 melaporkan bahwa militer siap mengerahkan lima divisi untuk menguasai Gaza secara penuh, termasuk mengepung Kota Gaza, kamp-kamp pengungsi tengah, dan wilayah al-Mawasi tempat sebagian besar pengungsi kini tinggal.
Eskalasi ini terjadi di tengah upaya pembicaraan tidak langsung antara Israel dan Hamas mengenai gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Namun, di tengah seruan global untuk menghentikan perang, Israel tetap melanjutkan agresinya yang telah membunuh lebih dari 57.400 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, sejak Oktober 2023.
Israel saat ini menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), dan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant telah dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-rushes-to-depopulate-northern-gaza-before-possible-ceasefire-report/3623421
https://www.#/20250706-israel-rushes-to-depopulate-northern-gaza-before-possible-ceasefire-report/







