Qatar telah mengajukan proposal baru kepada Israel yang mencakup gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza dan kesepakatan pertukaran tawanan, menurut laporan media Israel pada Selasa (1/7). Proposal ini menyerupai rencana yang sebelumnya diajukan oleh utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Menurut lembaga penyiaran publik KAN yang mengutip dua sumber diplomatik, rencana tersebut mencakup pembebasan delapan sandera Israel pada hari pertama gencatan senjata dan dua sandera lagi pada hari ke-50. Selain itu, juga diusulkan pengembalian jenazah 18 sandera Israel dalam tiga tahap, meski tidak dijelaskan jadwal pastinya.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan di media sosial, menyebut bahwa Israel telah menyetujui syarat-syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan kesepakatan dan menyerukan Hamas agar menerimanya. “Saya harap, demi kebaikan Timur Tengah, Hamas menerima kesepakatan ini, karena tidak akan ada tawaran yang lebih baik—hanya akan memburuk,” tegasnya.
Trump dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington pada 7 Juli. Ia mengatakan akan bersikap “sangat tegas” dalam mendorong Netanyahu menyetujui gencatan senjata.
Sementara itu, Hamas menyatakan kesiapan menerima usulan yang menjamin gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan seluruh tawanan Palestina—syarat yang hingga kini ditolak oleh Netanyahu.
Israel memperkirakan sekitar 50 sandera masih ditahan di Gaza, sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup. Di sisi lain, lebih dari 10.400 warga Palestina ditahan di penjara Israel, dengan laporan mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang telah menyebabkan sejumlah kematian.
Namun, di tengah perbincangan gencatan senjata, kekerasan terus meningkat. Pada Selasa, pasukan Israel membunuh sedikitnya 70 warga Palestina dan melukai lebih dari 200 lainnya di berbagai wilayah Gaza. Serangan juga dilaporkan terjadi di dekat lokasi distribusi bantuan, membunuh 11 warga sipil yang sedang mengantre makanan. Organisasi Palang Merah Internasional mengungkapkan keprihatinannya atas intensitas pertempuran, yang menyebabkan banyak korban sipil dan lumpuhnya fasilitas medis.
Lebih dari 170 organisasi kemanusiaan mendesak diakhirinya skema distribusi bantuan yang didukung AS dan Israel melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Mereka menyebutnya sebagai sistem “mematikan” yang memaksa warga sipil masuk ke zona militer. Sejak skema ini dimulai lima pekan lalu, lebih dari 600 orang terbunuh dan 4.200 lainnya luka-luka di sekitar titik distribusi bantuan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 56.600 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah terbunuh dalam agresi Israel. Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya di Gaza.
Sumber:
https://www.#/20250701-qatar-proposes-60-day-gaza-ceasefire-hostage-swap-israeli-media/
https://www.newarab.com/news/trump-says-israel-agrees-conditions-two-month-gaza-truce








