Lebih dari 15 organisasi hak asasi manusia internasional menyerukan agar Gaza Humanitarian Foundation (GHF) menghentikan seluruh operasinya di Jalur Gaza. Lembaga yang didukung Amerika Serikat dan Israel itu dituding telah menjalankan distribusi bantuan secara militeristik dan dehumanisasi, yang membunuh ratusan warga sipil Palestina. Para aktivis memperingatkan bahwa keterlibatan GHF dapat berujung pada dugaan keterlibatan dalam kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan genosida.
Dalam sebuah surat terbuka, kelompok HAM termasuk International Federation for Human Rights (FIDH), Palestinian Center for Human Rights, American Center for Constitutional Rights, dan International Commission of Jurists menyebut model distribusi bantuan ala GHF sebagai “pergeseran berbahaya dari prinsip-prinsip kemanusiaan internasional” dan “berkontribusi pada pengusiran paksa penduduk.”
Sejak mulai beroperasi pada 27 Mei 2024, GHF telah dikaitkan dengan kematian sedikitnya 516 warga sipil dan luka-luka terhadap lebih dari 3.799 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina. Dalam 24 jam terakhir saja, 49 warga terbunuh dan lebih dari 197 lainnya terluka ketika mencoba mengakses bantuan di dekat titik distribusi GHF. Selain itu, 39 orang dilaporkan hilang setelah menuju lokasi pembagian makanan tersebut.
Kekacauan di titik distribusi GHF menjadi pemandangan harian yang mengerikan. Warga kelaparan hanya diberi waktu sempit untuk mengakses makanan, lalu menjadi target tembakan pasukan Israel. Serangan terbaru terjadi di dua lokasi: Rafah (Gaza selatan) dan dekat Koridor Netzarim (Gaza tengah), dengan masing-masing tempat memakan korban terbunuh lebih dari 25 orang akibat serangan Israel.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut lokasi-lokasi tersebut sebagai “perangkap massal” dan “rumah jagal.” Sebagian besar lembaga kemanusiaan termasuk PBB menolak bekerja sama dengan GHF karena dianggap menyimpang dari prinsip netralitas, kemanusiaan, dan imparsialitas. Bantuan hanya difokuskan di wilayah selatan dan tengah, sementara warga dipaksa berjalan jauh tanpa jaminan keamanan, untuk mendapat makanan dalam jumlah terbatas.
PBB mengonfirmasi bahwa Israel terus memblokade bantuan pangan, dengan hanya mengizinkan beberapa truk yang masuk ke Gaza. Penutupan semua jalur utama ke Gaza sejak 2 Maret telah memperparah krisis kemanusiaan bagi 2,3 juta penduduk. Laporan IPC terbaru memperingatkan bahwa hampir seperempat populasi Gaza berada di ambang kelaparan tingkat paling parah (IPC Fase 5).
Organisasi Médecins Sans Frontières (MSF) mengingatkan bahwa penggunaan bantuan sebagai senjata dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. “Setiap hari, warga Palestina disambut oleh pembantaian saat mencoba mendapatkan bantuan yang jumlahnya pun sangat minim,” ungkap MSF.
Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengecam sistem distribusi bantuan buatan AS-Israel sebagai “mematikan dan memalukan.” Dalam pernyataan tegas di media sosial, ia menyebut: “Mengundang orang yang kelaparan untuk menuju kematian mereka adalah kejahatan perang. Mereka yang bertanggung jawab harus diadili. Ini adalah aib bagi nurani kolektif dunia.”
GHF sendiri membantah bertanggung jawab atas kematian di sekitar titik bantuannya, namun pernyataan itu bertentangan dengan kesaksian korban, tim penyelamat, serta laporan dari organisasi hak asasi manusia.
Sumber:
https://qudsnen.co/mass-death-traps-49-aid-seekers-killed-near-us-backed-ghf-sites-total-death-toll-hits-516/
https://www.newarab.com/news/ngos-urge-closing-gaza-aid-group-warn-possible-war-crimes








