Ribuan bayi di Jalur Gaza menghadapi risiko kematian yang semakin besar akibat blokade Israel yang melarang masuknya suplai medis penting, termasuk susu formula. Dr. Asaad Al-Nawajaa dari Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, memperingatkan bahwa puluhan bayi baru lahir berada dalam kondisi kritis karena minimnya inkubator dan peralatan medis.
Sebagian besar bayi yang lahir prematur sangat tergantung pada susu formula khusus untuk bertahan hidup, terutama bayi di bawah enam bulan. Namun, larangan impor dan stok yang menipis membuat mereka rentan terhadap berbagai penyakit seperti diare parah dan infeksi saluran pernapasan. Rumah Sakit Al-Rantisi bahkan mengeluarkan seruan darurat setelah persediaan susu mereka benar-benar habis, meskipun menerima puluhan anak yang mengalami malnutrisi setiap hari.
Situasi diperparah dengan kondisi para ibu yang juga mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. Banyak yang tidak mampu menyusui karena tubuh mereka sendiri sudah melemah. Salah satunya adalah Ghadeer al-Koubtan, ibu dari Ghandoura Ibrahim al-Faraa, bayi prematur yang kini terbaring lemah di inkubator. “Tidak ada susu, tidak ada apa pun yang bisa membantu bayiku atau diriku sendiri,” katanya dengan suara lirih.
Menurut Dr. Yasser Abu Ghalee, kepala unit anak di Rumah Sakit Nasser, sebagian besar bayi prematur membutuhkan perhatian segera setelah dilahirkan. Ia mengungkapkan bahwa susu formula di unit perawatan intensif hampir habis, dan tidak tersedia sama sekali bagi bayi lain yang tidak dirawat intensif. “Situasinya sungguh sangat buruk, dalam arti bencana yang sebenarnya,” ujarnya.
Harga susu formula melonjak drastis. Jika pun tersedia, satu kaleng bisa mencapai 300 shekel (sekitar Rp1,4 juta). Bahkan susu sapi pun langka, dan yang ada dijual seharga 200 shekel (sekitar Rp1 juta), membuatnya tak terjangkau bagi sebagian besar keluarga.
Kondisi ini merupakan akibat dari pengepungan ketat Israel yang sudah berlangsung lebih dari delapan bulan, memutus aliran bantuan makanan dan medis yang vital. Dalam laporan kepada Anadolu Agency, juru bicara UNICEF James Elder menegaskan bahwa anak-anak yang mengalami malnutrisi akut berisiko sepuluh kali lebih tinggi meninggal dunia hanya karena penyakit ringan, dan akses ke rumah sakit kini tidak lagi aman.
Blokade dan sistem distribusi bantuan yang dikendalikan Israel serta dijalankan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—yang didukung AS dan Israel—juga memperburuk keadaan. Tidak seperti sistem PBB, GHF beroperasi berdasarkan koordinasi militer Israel dan kerap menjadi lokasi penembakan terhadap warga sipil yang hanya ingin mencari bantuan makanan.
Dr. Abu Ghalee menyerukan kepada komunitas internasional agar segera membuka koridor kemanusiaan dan mengizinkan masuknya susu formula. “Kelaparan sedang terjadi di kalangan ibu dan anak-anak, setidaknya susu formula harus tersedia. Saya tidak tahu di mana letak rasa kemanusiaan sekarang,” katanya.
Sementara itu, Koubtan hanya bisa menangis di samping inkubator anaknya. “Apa yang bisa saya katakan ketika saya melihat anak saya di depan mata, tapi tak bisa saya peluk, saya cium, atau saya dekap? Setelah semua penderitaan yang kami alami, pada akhirnya kami bahkan tak bisa menikmati kebahagiaan bersama anak-anak kami. Mereka tidak bersalah dalam perang ini.”
Sumber:
https://www.#/20250624-israels-ban-on-entry-of-medical-supplies-to-gaza-threatens-lives-of-hundreds-of-newborns/
https://www.middleeasteye.net/news/situation-catastrophic-infants-gaza-battle-stay-alive-amid-formula-shortage








