Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) kembali mengeluarkan peringatan keras terkait kehancuran total sistem kesehatan di Jalur Gaza, akibat blokade total dan serangan sistematis Israel terhadap fasilitas medis.
WHO menyatakan bahwa sistem kesehatan Gaza telah mencapai “titik kritis.” Selama lebih dari 100 hari, tidak ada satu liter pun bahan bakar yang diizinkan masuk ke wilayah tersebut. Upaya mengambil kembali stok dari zona evakuasi juga ditolak oleh Israel. Saat ini, hanya 17 dari 36 rumah sakit yang masih berfungsi secara minimal hingga parsial, dengan kapasitas sekitar 1.500 tempat tidur—turun 45% dibanding sebelum agresi.
“Tanpa bahan bakar, seluruh tingkat pelayanan kesehatan akan terhenti, menyebabkan kematian dan penderitaan yang seharusnya dapat dicegah,” ujar Rik Peeperkorn, perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki. Ia menambahkan bahwa rumah sakit di Gaza kini bergantung pada generator dan baterai untuk mengoperasikan alat-alat vital seperti ventilator, mesin dialisis, dan inkubator. Ambulans pun tak bisa beroperasi tanpa pasokan bahan bakar.
Sementara itu, UNRWA memperingatkan bahwa 45% pasokan medis penting telah habis, dan sepertiga dari stok yang tersisa diperkirakan akan habis dalam enam minggu. “Kebutuhan kesehatan meningkat tajam setiap harinya, sementara persediaan darah dan obat-obatan semakin menipis,” tulis UNRWA dalam pernyataannya di media sosial.
Krisis ini diperparah oleh serangan langsung Israel terhadap rumah sakit, pasien, dan tenaga medis. Dari total 38 rumah sakit di Gaza, hanya 16 yang masih beroperasi sebagian—lima di antaranya rumah sakit publik dan 11 lainnya swasta. Delapan rumah sakit lapangan darurat yang tersisa pun nyaris kewalahan menghadapi lonjakan kasus kritis.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan agresi brutal terhadap Gaza dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Lebih dari 185.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, telah menjadi terbunuh atau luka-luka. Blokade total telah diberlakukan sejak 2 Maret, menutup semua perbatasan dan mencegah masuknya makanan, obat-obatan, bahan bakar, serta bantuan kemanusiaan.
Meski pada 19 Mei Israel mengumumkan pembukaan kembali sebagian akses bantuan, distribusinya dilakukan di bawah syarat ketat dan mengecualikan PBB, termasuk UNRWA. Badan tersebut, yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi bantuan di Gaza, terus menghadapi tekanan politik dan kampanye pemotongan dana dari Israel.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyuarakan keprihatinan serupa. Ia mengecam pembunuhan warga Palestina yang sedang mencari bantuan dan menyerukan penyelidikan independen terhadap serangan terhadap infrastruktur kemanusiaan.
Mengingat situasi yang terus memburuk dengan cepat, komunitas internasional diingatkan bahwa tanpa intervensi segera, Gaza akan menghadapi keruntuhan total sistem kesehatan dan bencana kemanusiaan yang tak terbendung.
Sumber:
UNRWA: Gaza’s health system is collapsing as Israel blocks medicine and blood supplies








