“Pesan yang ingin disampaikan oleh orang-orang di sini kepada dunia adalah; bahkan jika kalian menghentikan kami melalui laut, atau udara, kami akan datang lagi, dengan ribuan orang, melalui darat.” – Ghaya Ben Mbarek, jurnalis Tunisia
Genosida di Gaza telah memasuki tahun kedua. Lebih dari 55.000 orang telah kehilangan nyawa, belum ditambah 11.000 orang lainnya yang masih dinyatakan hilang dan tidak diketahui nasibnya. Sejak 2 Maret 2025, Israel melakukan blokade total terhadap Gaza, dan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan, menyebabkan krisis kelaparan yang parah. Orang-orang yang peduli dengan Palestina telah mencoba segala cara untuk menekan Israel agar tidak menambah penderitaan warga Gaza. Sejak genosida Israel dimulai 20 bulan yang lalu, warga sipil di berbagai negara telah melakukan rangkaian protes di ibu kota masing-masing, mengecam pemerintah negara mereka yang bersekongkol dengan kampanye pembunuhan massal yang dilakukan Israel di Gaza.
Sejak bertahun-tahun lalu, para aktivis juga telah berusaha memecah blokade Gaza melalui laut. Mereka berlayar menggunakan beberapa kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza, mencoba untuk mengakhiri blokade menyesakkan yang telah diberlakukan Israel sejak 2007. Kapal terbaru yang berlayar menuju Gaza, Madleen, yang dinaiki oleh 12 aktivis dari Koalisi Freedom Flotilla, berlayar dari Italia pada 1 Juni 2025. Namun, para aktivis diculik oleh pasukan Israel di perairan internasional pada 9 Juni, sebelum mereka dideportasi oleh pasukan Israel. Akan tetapi, itu bukanlah akhir dari segalanya, sebab kini orang-orang yang peduli dengan Palestina telah menggelar aksi yang lebih besar untuk memecah blokade Gaza melalui jalur darat, yang disebut dengan Global March to Gaza.
Perjalanan Kemanusiaan, Menuntut Diakhirinya Blokade Gaza

Koordinasi Aksi Bersama untuk Palestina telah memimpin Konvoi Sumud, sebagai bagian dari aksi Global March to Gaza. Sumud, diambil dari bahasa Arab yang berarti ketahanan. Konvoi ini diikuti oleh peserta dari Afrika Utara, seperti Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Libya. Lebih dari 1.000 orang yang berpartisipasi dalam konvoi ini telah tiba di Libya pada Selasa pagi (10/06), sehari setelah mereka bergerak dari Ibu Kota Tunisia, Tunis, dalam rombongan yang terdiri dari 12 bus dan 100 mobil pribadi, dengan tujuan menekan para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan terhadap Gaza. Mereka beristirahat di Libya setelah seharian bepergian, tetapi belum memiliki izin untuk menyeberangi bagian timur negara Afrika Utara untuk memasuki Mesir.
Konvoi Sumud berkoordinasi dengan 4.000 aktivis dan individu dari 80 negara yang terbang ke Ibu Kota Mesir, Kairo, pada 12 Juni, sehingga mereka semua dapat berbaris ke Rafah bersama-sama. Beberapa organisasi lokal yang mendukung aksi ini di antaranya: Serikat Buruh Umum Tunisia, Asosiasi Pengacara Nasional Tunisia, Liga Tunisia untuk Hak Asasi Manusia, dan Forum Tunisia untuk Hak Ekonomi dan Sosial. Dari Indonesia, sepuluh orang juga dilaporkan menjadi bagian dari Global March to Gaza, di antaranya yaitu publik figur Zaskia Mecca, Wanda Hamidah, dan Ratna Galih.
Selain organisasi nasional Tunisia, sejumlah organisasi nasional dan internasional dari berbagai negara juga turut serta menjadi bagian dari Global March to Gaza, seperti Gerakan Pemuda Palestina, Wanita Codepink untuk Perdamaian di Amerika Serikat, Suara Yahudi untuk Buruh di Inggris, Aliansi Pekerja Kesehatan Internasional untuk Keadilan, Aliansi Solidaritas Masafer Yatta dari Palestina, Forum Solidaritas India-Palestina, Gerakan Anti-Perang Irlandia, dan organisasi-organisasi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Kelompok-kelompok yang berpartisipasi dalam Global March to Gaza mengatakan bahwa mereka tidak mewakili partai politik, ideologi atau agama tertentu, serta menekankan bahwa satu-satunya prinsip gerakan mereka adalah “keadilan, martabat manusia, dan perdamaian”.
Dr. Huseyin Durmaz, seorang dokter yang berbasis di Turki dan anggota Inisiatif Kesehatan Internasional mengatakan, setelah beristirahat sebentar di Libya, para peserta Global March to Gaza berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju Kairo dan bergabung dengan sesama aktivis di Kairo. Dari sana, mereka akan melakukan perjalanan dengan bus menuju ke El Arish di Semenanjung Sinai Mesir pada 12 Juni.
Pada 13 Juni para peserta akan mulai berjalan sekitar 50 kilometer (31 mil) ke perbatasan Rafah dengan Gaza selama tiga hari. Mereka akan mengadakan demonstrasi pada 14 Juni, dan melakukan protes besar pada 15 Juni. Para peserta akan tidur di tenda-tenda selama perjalanan dan bertahan hingga 20 Juni.
Para aktivis sebelumnya mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa mereka tidak berangan-angan untuk diizinkan masuk ke Gaza, tetapi mereka berharap perjalanan mereka mampu menekan para pemimpin dunia untuk memaksa Israel mengakhiri genosida di Jalur Gaza. Saif Abukeshek, Juru Bicara Global March to Gaza, mengatakan kepada Middle East Eye bahwa penting untuk mengakui bahwa krisis di Gaza bukan karena kekurangan bantuan, tetapi karena upaya yang disengaja dari Israel untuk menghancurkan populasi melalui pengeboman terus-menerus terhadap rumah, rumah sakit dan pusat pengungsian, serta memblokade bantuan penting untuk bisa memasuki Gaza.
Tantangan dalam Misi Kemanusiaan Menuju Gaza

Meskipun Global March to Gaza merupakan misi kemanusiaan yang mulia dan melibatkan ribuan orang dari banyak negara, nyatanya perjalanan aksi damai ini penuh dengan hambatan. Sama seperti perjalanan-perjalanan yang dilakukan oleh banyak aktivis sebelumnya menuju Gaza, perjalanan kali ini juga tidak luput dari risiko. Kekhawatiran pertama muncul di Mesir, yang mengklasifikasikan bentangan wilayah antara El Arish dan perbatasan Rafah sebagai zona militer dan tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk kecuali bagi yang tinggal di sana. Sementara itu, penyelenggara pawai menyatakan bahwa sekitar 4.000 orang yang berasal dari 80-an negara telah memesan penerbangan ke Kairo, dan banyak yang sudah tiba menjelang pawai yang direncanakan.
Kanal berita Mesir, Mada Masr, melaporkan bahwa 40 warga Aljazair ditahan pada Rabu pagi (11/06) dan dibebaskan setelah 24 jam, sementara 10 anggota delegasi yang tiba dari Maroko dilaporkan kembali ke bandara. Beberapa warga Turki juga dilaporkan dideportasi setelah mereka mengibarkan bendera Palestina di luar hotel mereka. Sehari setelahnya, kantor berita Reuters melaporkan bahwa setidaknya 73 warga negara asing telah dideportasi dalam penerbangan ke Istanbul pada Kamis (12/06), dan 100 lainnya berada di bandara menunggu deportasi.
Saif Abukeshek, juru bicara Global March to Gaza, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa lebih dari 200 aktivis telah ditahan di bandara Kairo atau diinterogasi di hotel-hotel di kota itu. Dia menambahkan bahwa setelah interogasi, beberapa aktivis ditangkap, sementara yang lain dibebaskan. Di antara aktivis yang ditahan adalah warga negara dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Prancis, Spanyol, Aljazair, dan Maroko. Abukeshek mengatakan kepada AFP bahwa petugas berpakaian preman telah masuk ke hotel-hotel Kairo sejak Rabu (11/06) dengan membawa daftar nama, menginterogasi aktivis, menggeledah barang-barang mereka, dan menyita ponsel mereka.
Penyelenggara pawai mengatakan bahwa mereka telah mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah Mesir, namun banyak aktivis tetap dideportasi dan tidak diizinkan untuk melanjutkan pawai. Meski begitu, para aktivis menegaskan bahwa mereka tetap akan melanjutkan perjalanan seperti yang direncanakan. Abukeshek mengatakan kepada AFP bahwa kelompok mereka masih berencana untuk melanjutkan perjalanan pada Jumat (13/06) ke perbatasan Gaza.
Kairo kemudian mengeluarkan peringatan bahwa hanya orang-orang yang memiliki otorisasi yang diizinkan untuk melakukan perjalanan ke rute pawai yang direncanakan. “Mesir memegang hak untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasionalnya, termasuk pengaturan pergerakan individu di dalam wilayahnya, terutama di daerah perbatasan yang sensitif,” kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan.
Pihak Israel kemudian menambahkan bahwa jika Kairo gagal menghentikan pawai, maka pasukan Israel akan campur tangan untuk menghentikannya. Mesir, yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, telah mendapatkan perintah dari Israel untuk mencegah pawai mencapai perbatasan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut para aktivis sebagai “pengunjuk rasa jihad” dan mengatakan kehadiran mereka di perbatasan “akan membahayakan keselamatan tentara [Israel], sehingga tidak akan diizinkan”.
Namun demikian, ancaman tersebut sama sekali tidak membuat para aktivis goyah. Mereka mengatakan akan terus mencoba, bahkan jika mereka dipastikan tidak akan diizinkan masuk ke Gaza. Para aktivis mengatakan bahwa jika semua orang hanya diam dan tidak mengambil tindakan, Israel akan terus melanjutkan genosida hingga semua orang di Gaza terbunuh dan pembersihan etnis benar-benar terjadi. Saree, seorang anggota senior Asosiasi Cendekiawan Muslim Aljazair, menekankan: “Kepada saudara-saudara kami di Gaza, kami mengatakan bahwa kalian tidak sendirian. Paling tidak, ini adalah aksi yang dapat kami lakukan untuk membawa suara kalian ke dunia.”
Ribuan Orang Membawa Satu Suara: “Bebaskan Gaza!”

“Gaza adalah prinsip terakhir umat manusia pada saat ini. Tidak ada (prinsip) yang tersisa dari kita jika kita terus diam,” demikian Abukeshek, juru bicara Global March to Gaza, mengatakan. Kalimat yang ia sampaikan tersebut adalah penegasan bahwa masalah Gaza bukan hanya milik penduduk Palestina, tetapi telah menjadi masalah kemanusiaan bagi seluruh dunia. Saat ini, ketika dunia sibuk dengan urusannya masing-masing, setiap menit akan ada yang terbunuh di Gaza. Jika mereka tidak terbunuh karena rudal, nyawa mereka akan terenggut oleh kelaparan, wabah penyakit, dan cedera yang tidak bisa ditangani karena runtuhnya sistem kesehatan dan blokade ketat terhadap bantuan kemanusiaan.
Di Gaza, sama sekali tidak ada tempat yang aman, tidak ada satu pun orang yang tidak dijadikan sasaran. Lambang PBB tidak dapat melindungi penduduk Gaza dari pengeboman, jaket pers yang digunakan para jurnalis dan pakaian medis yang dikenakan petugas kesehatan juga tidak mampu mencegah peluru menembus dada mereka. Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin lama semakin memburuk, hingga Ana Rita, seorang aktivis dari Portugal, mengatakan “Sepertinya kita menjalani realitas paralel ini ketika tiba-tiba seluruh dunia terbalik. Di mana rasa kemanusiaan kita? Bagaimana kita dapat terus menjalani kehidupan normal sementara kita melihat genosida terjadi di depan mata dan memilih untuk tidak melakukan apa-apa?”
Global March to Gaza mungkin belum bisa menyelesaikan genosida Gaza hingga ke akarnya. Pun perjalanan ini tidak memiliki jaminan akan seratus persen berhasil membuat Israel membuka perbatasan dan mengambil perhatian seluruh pemimpin dunia untuk bergerak demi menyelamatkan nyawa jutaan orang di Gaza. Akan tetapi setidaknya, gerakan ini menunjukkan bahwa masih banyak orang di dunia ini yang peduli terhadap kemanusiaan, peduli terhadap Gaza dan Palestina, dan menolak untuk sekadar diam melihat genosida brutal yang terjadi setiap harinya di depan mata. Perjalanan ini adalah bukti untuk menunjukkan bahwa kita semua telah mengambil tindakan tegas, baik bagi aktivis yang turun langsung dalam perjalanan, maupun bagi yang mendukung dari kejauhan.
Dalam pawai kemanusiaan ini, kita semua menekankan bahwa kita semua bertanggung jawab atas Gaza, seperti yang dikatakan oleh Abukeshek: “Kita semua bertanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini di Gaza. Kita semua akan ditanya, ‘Apa yang telah Anda lakukan? Apa yang telah Anda lakukan dalam hidup Anda? Apa yang telah Anda lakukan saat genosida terjadi di depan mata Anda?”
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
www.aljazeera.com/amp/news/2025/6/10/explainer-what-is-the-global-march-for-gaza-all-about www.aljazeera.com/amp/video/newsfeed/2025/6/12/activists
www.aljazeera.com/amp/news/2025/6/12/egypt-deports-dozens-of-activists-before-planned-march-to-gaza-border
https://www.aljazeera.com/video/newsfeed/2025/6/15/egypt-stops-pro-palestine-activists-in-their-march-to-gaza
https://www.aljazeera.com/video/newsfeed/2025/6/12/activists-gather-for-march-to-gaza
https://www.#/20250615-the-global-march-to-gaza-indonesia-and-egypt/
https://www.middleeasteye.net/news/egypt-detains-and-deports-pro-palestine-activists-hundreds-arrive-cairo-gaza-march
https://www.middleeasteye.net/news/what-activists-hope-to-achieve-global-march-for-gaza
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/global-march-to-gaza-activists-from-31-countries-plan-march-to-rafah-border-/3577641








