Anak-anak di Jalur Gaza terpaksa menjalani operasi tanpa anestesi akibat krisis pasokan medis yang parah, imbas dari blokade berkepanjangan oleh otoritas pendudukan Israel. Hal ini disampaikan oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dan lembaga internasional Save the Children.
Dalam pernyataan di platform X (Twitter), UNRWA memperingatkan bahwa pengepungan Israel telah menghalangi masuknya bantuan medis dan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa—termasuk obat bius—ke rumah sakit-rumah sakit Gaza. UNRWA menyerukan pengiriman bantuan darurat secara aman untuk meringankan krisis yang semakin memburuk.
Save the Children dalam laporannya menyebut situasi anak-anak di Gaza sebagai yang terburuk di dunia. Direktur eksekutifnya, Inger Ashing, menyampaikan bahwa Gaza kini menjadi “tempat terburuk di dunia bagi seorang anak.”
Ashing mengungkapkan bahwa truk-truk bantuan kemanusiaan tertahan di perbatasan, dan organisasinya tidak bisa menjalankan tugas kemanusiaan karena diblokir. Dalam kunjungan terkininya ke Gaza, ia menyaksikan sendiri perubahan drastis pada anak-anak: dari mereka yang dulu bercita-cita sekolah dan memiliki masa depan, kini banyak yang hanya berharap mati agar bisa bertemu kembali dengan orang-orang tercinta yang telah syahid.
“Mereka ingin mati dan masuk surga—karena di sana ada makanan dan air, sesuatu yang tak lagi mereka miliki di sini,” ujarnya. “Mereka telah kehilangan harapan.”
Sejak serangan genosida dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 54.000 warga Palestina—mayoritas perempuan dan anak-anak—telah gugur, dan lebih dari 126.000 terluka. Sebagian besar penduduk Gaza kini hidup mengungsi di tempat-tempat yang padat, mengalami kelaparan dan malnutrisi akut akibat blokade dan hambatan terhadap bantuan pangan dan medis.
Sumber:
Gaza children undergoing surgery without anesthesia amid Israeli siege








