Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS) dan Otoritas Kualitas Lingkungan menyatakan dalam siaran pers bahwa tahun ini, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia terjadi di tengah penderitaan rakyat Palestina yang terus mengalami bencana lingkungan dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, khususnya di Jalur Gaza, akibat agresi Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
“Jaringan air dan limbah telah hancur, lahan pertanian terkubur di bawah sisa bahan peledak yang terkontaminasi, racun menyebar di tanah dan udara akibat penggunaan senjata pembakar serta fosfor yang dilarang secara internasional. Sementara itu, wilayah pesisir berubah menjadi kuburan keanekaragaman hayati akibat kebocoran limbah dan bahan kimia ke Laut Mediterania.
Ini bukan sekadar ‘kerusakan kolateral’ dari agresi, melainkan kejahatan lingkungan yang disengaja untuk mengubah Jalur Gaza menjadi lahan kosong yang tidak layak huni. Bencana lingkungan ini juga mengancam ekosistem seluruh kawasan Mediterania Timur. Apa yang dilakukan Israel adalah genosida ganda: terhadap manusia dan alam — sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya secara historis,” demikian bunyi pernyataan lembaga tersebut.
Kehilangan Keamanan Air
Sebagian besar kebutuhan air masyarakat Palestina bergantung pada air tanah dan sumber permukaan, yang menyumbang sekitar 73,1% dari total pasokan air. Penggunaan air permukaan sangat terbatas akibat kontrol pendudukan Israel atas Sungai Yordan.
Sebanyak 91% rumah tangga di Jalur Gaza mengalami ketidakamanan air. Sekitar 65% populasi Gaza hanya menerima 3–5,5 liter air per orang per hari untuk kebutuhan minum dan memasak, sementara hanya 35% yang menerima kurang dari 15 liter per orang per hari untuk minum, memasak, dan kebutuhan dasar sanitasi.
Agresi juga telah menghancurkan atau merusak lebih dari 80% stasiun air dan 330.000 meter jaringan perpipaan. Lebih dari 85% infrastruktur air dan sanitasi di seluruh Jalur Gaza rusak sebagian atau sepenuhnya, termasuk seluruh enam instalasi pengolahan air limbah utama. Selain itu, 85% stasiun pompa air limbah (73 dari 84) dan jaringan terkait, serta lebih dari 650.000 meter jaringan limbah, juga hancur.
Kehancuran Infrastruktur di Tepi Barat
Sejak awal tahun 2025, Israel meningkatkan operasi militernya di wilayah utara Tepi Barat, terutama di kamp-kamp pengungsi Palestina. Di Kegubernuran Jenin, agresi telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur: lebih dari 3,3 km jaringan pembuangan limbah dan 21,4 km pipa air mengalami kerusakan.
Di Kegubernuran Tulkarm, kerusakan mencakup penghancuran 8,4 km jaringan pembuangan limbah dan air hujan, serta 15 km jalur pipa air, khususnya di kamp pengungsi Tulkarm dan Nur Shams.
Di Kegubernuran Tubas, lebih dari 4 km infrastruktur air dan sanitasi rusak. Penghancuran sistem limbah dan drainase telah menyebabkan air limbah menyebar dan meresap ke dalam tanah, menempatkan lebih dari 78% penduduk Gaza pada risiko kesehatan serius akibat hama, hewan pengerat, dan buruknya sanitasi tanpa dukungan layanan dasar.
Runtuhnya Pengelolaan Limbah dan Ancaman Paparan Bahan Beracun
Jalur Gaza kini menghadapi bencana lingkungan serius akibat akumulasi lebih dari setengah juta ton limbah padat, menyusul hampir menyeluruhnya keruntuhan sistem pengelolaan limbah akibat agresi Israel yang terus berlangsung. Sebagian besar kendaraan pengangkut sampah telah hancur, dan jalan-jalan rusak, sehingga menyulitkan petugas kebersihan menjangkau tempat pembuangan utama.
Petugas terpaksa membangun tempat pembuangan sementara di dekat kawasan permukiman, yang mengakibatkan polusi udara, penyebaran penyakit kulit dan pernapasan, serta lonjakan jumlah serangga dan hewan pengerat. Proses pembusukan limbah dan pelepasan gas beracun telah mengekspos lebih dari 42% penduduk terhadap risiko kesehatan serius.
Krisis lingkungan tidak hanya terbatas pada limbah padat, tetapi juga mencakup sekitar 50 juta ton puing-puing dari penghancuran total atau sebagian lebih dari 173.000 bangunan. Dari jumlah ini, 2,3 juta ton tercampur dengan bahan berbahaya seperti asbes. Ribuan ton limbah medis dan limbah beracun telah menumpuk, dan lebih dari 100.000 ton bahan peledak dan bom telah dijatuhkan, menciptakan tantangan lingkungan dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sumber: https://english.wafa.ps/Pages/Details/158076








