Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Hanan Balkhi, menyatakan bahwa anak-anak di Gaza mulai meninggal karena kelaparan akibat blokade ketat Israel.
“Kematian, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, semakin sering terjadi karena kekurangan makanan dan obat-obatan,” ujar Balkhi dalam wawancara dengan Anadolu.
Ia menambahkan bahwa infrastruktur kesehatan di Gaza telah hancur total, sanitasi sangat buruk, dan masyarakat hidup dalam kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
“Sektor layanan kesehatan telah runtuh. Hanya beberapa rumah sakit yang masih bisa memberikan layanan secara terbatas,” katanya.
Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut Gaza sebagai “tempat paling lapar di dunia.” Juru bicara OCHA, Jens Laerke, menyampaikan bahwa Israel hanya mengizinkan sebagian kecil truk bantuan masuk ke Gaza.
Dari 900 truk bantuan, hanya sekitar 600 yang diizinkan mencapai perbatasan. Namun, berbagai hambatan birokratis dan keamanan membuat distribusi bantuan ke dalam Gaza hampir mustahil.
“Yang bisa kami bawa masuk hanya tepung—dan itu harus dimasak terlebih dahulu. Sementara seluruh populasi Gaza terancam kelaparan,” jelas Laerke dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (30/5).
Dalam konteks serupa, juru bicara Palang Merah Internasional, Tommaso della Longa, menambahkan bahwa setengah dari fasilitas medis di Gaza tak lagi berfungsi karena kekurangan bahan bakar dan peralatan medis.
Sumber:
https://english.palinfo.com/news/2025/05/30/340373/\








