Keberhasilan Israel dalam ajang Eurovision Song Contest pada tahun ini memicu kecurigaan dan kritik tajam terhadap proses pemungutan suara. Stasiun penyiaran publik Spanyol, RTVE, secara resmi meminta audit atas hasil suara publik, sementara kecaman terhadap hasil kontes menyebar luas di media sosial.
Selama berbulan-bulan, Spanyol konsisten mengkritik keputusan panitia Eurovision yang tetap mengizinkan Israel berpartisipasi di tengah agresinya yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Bersama Slovenia dan Islandia, RTVE telah mengajukan kekhawatiran mereka kepada European Broadcasting Union (EBU) sejak April lalu, mempertanyakan moralitas mengikutsertakan negara yang sedang mengepung wilayah sipil dan melakukan pengeboman tanpa henti.
Ketegangan memuncak setelah hasil final diumumkan pada Sabtu malam, ketika Israel menempati posisi kedua dalam pemungutan suara publik, terpaut hampir 80 poin dari Austria. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez kemudian menyerukan agar Israel dikeluarkan dari ajang budaya internasional seperti Eurovision.
“Kita tidak bisa menerima standar ganda, bahkan dalam urusan budaya,” ujar Sanchez. “Tidak ada yang terkejut ketika Rusia dilarang mengikuti kompetisi internasional setelah menginvasi Ukraina tiga tahun lalu. Maka, seharusnya Israel pun tidak diperbolehkan.”
Kontroversi ini juga menyangkut dampak partisipasi Israel terhadap hasil kontestan lain. Wakil Spanyol, Tommy Cash, harus puas di posisi ketiga, tepat di belakang Israel. Padahal, juri Spanyol tidak memberikan satu poin pun kepada Yuval Raphael, perwakilan Israel. Namun, publik Spanyol justru memberikan skor tertinggi kepadanya—suatu hal yang dianggap aneh mengingat sentimen publik yang kuat terhadap agresi Israel di Gaza.
Ketika RTVE meminta EBU untuk menyerahkan laporan pemungutan suara yang rinci berdasarkan negara, laporan yang diberikan dinilai tidak memenuhi harapan karena tidak mencantumkan rincian per negara. Sejumlah negara lain dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mengajukan tuntutan audit serupa.
Di luar kecurigaan akan manipulasi suara, partisipasi Israel di Eurovision tahun ini juga menuai kritik luas di media sosial. Dalam penampilan kelompok, para kontestan menyanyikan lirik yang berbunyi, “Non-political, strictly neutral, doesn’t matter if you’re good or brutal”—yang segera menuai sindiran karena dianggap menormalisasi kekerasan Israel dan menyembunyikannya di balik dalih netralitas.
Warganet menuding Eurovision menerapkan standar ganda: Rusia dilarang karena menginvasi Ukraina, tapi Israel diizinkan tampil dua kali meskipun melakukan kejahatan kemanudiaan terhadap warga Palestina. Salah satu unggahan menyatakan, “Eurovision mencerminkan kemunafikan Barat dan nilai-nilai palsu mereka. Rusia diboikot karena perang, tapi Israel dibiarkan tampil sambil membunuh ribuan warga sipil.”
Yuval Raphael juga dikritik karena berfoto di tempat yang sama dengan pendiri gerakan Zionisme, Theodor Herzl, yang ditafsirkan sebagai pesan politik terselubung. Penonton yang menyaksikan secara langsung juga membagikan video suasana nyata di dalam arena, menunjukkan banyaknya penonton yang mencemooh Raphael—tetapi suara tersebut tidak terdengar dalam siaran resmi, yang diduga telah ditimpa dengan sorakan palsu.
Aksi protes sempat terjadi langsung di lokasi. Sejumlah aktivis dari organisasi Inggris Youth Demand mencoba naik ke panggung saat Raphael tampil, namun mengaku mengalami kekerasan fisik dari pihak keamanan Eurovision. “Tepat sebelum penampilan Israel, tiba-tiba keamanan diperketat, dan rencana kami gagal. Kami mendapat perlakuan kasar dari petugas keamanan, staf Eurovision, dan bahkan polisi,” ujar salah satu aktivis dalam pernyataan video.
Selain itu, selama tahap pemungutan suara publik, beberapa warganet mengaku melihat iklan YouTube yang mendorong mereka untuk memilih Israel hingga 20 kali. Iklan itu, menurut klaim mereka, didanai oleh lembaga pemerintah Israel dan ditayangkan kepada lebih dari 25 juta pemirsa—sebuah bentuk kampanye yang dianggap melanggar semangat keadilan dalam kompetisi.
Walau Eurovision memang memperbolehkan pemirsa memberikan suara hingga 20 kali, beberapa akun pro-Israel mengaku telah memilih lebih dari batas tersebut. Jika benar, ini melanggar aturan Eurovision dan memperkuat dugaan manipulasi hasil.
Di tengah semua tudingan ini, para pendukung Israel membantah dengan mengatakan bahwa “media sosial bukanlah dunia nyata,” dan bahwa Israel mendapat suara dari “mayoritas yang diam.” Namun, banyak pihak tetap menilai bahwa Eurovision telah menjadi alat propaganda Israel.
“Mereka jelas kalah di media sosial, dan ini satu-satunya cara mereka untuk meyakinkan rakyat Israel bahwa dunia masih mendukung genosida itu,” tulis salah satu pengguna X.
Sumber:








