Serangan besar-besaran Israel di Gaza utara pada Jumat (16/05) dini hari menyebabkan hampir 100 warga Palestina, termasuk anak-anak, terbunuh. Serangan dilakukan melalui darat, laut, dan udara, menargetkan wilayah Beit Lahia dan kamp Jabalia, serta menghancurkan setidaknya sembilan rumah dan tenda pengungsi. Warga melaporkan pengeboman intensif dari segala arah, termasuk dari kapal perang.
Pertahanan Sipil Palestina melaporkan bahwa mereka tidak mampu menangani banyaknya panggilan darurat akibat terbatasnya kapasitas. “Warga meninggal di bawah reruntuhan karena kami tidak mampu menyelamatkan mereka,” ujar juru bicara Mahmoud Basal, yang juga menyebut lebih dari 85% kemampuan pertahanan sipil telah hancur sejak awal perang Oktober 2023.
Beberapa warga selamat menceritakan pengalaman mengerikan mereka. Basheer al-Ghandour mengatakan rumah saudaranya runtuh dan menimpa 25 orang di dalamnya—lima terbunuh, termasuk anak-anak. “Istri saudaraku masih terjebak di bawah reruntuhan,” katanya. Sementara itu, Yousif Salem mengungkapkan bahwa ia dan ketiga anaknya nyaris terbunuh saat mencoba keluar dari rumah di tengah tembakan drone dan artileri.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur militer kelompok perlawanan dan menyebut telah “mengeliminasi beberapa teroris”. Namun, laporan dari lapangan menyebutkan korban terbesar justru berasal dari kalangan sipil, termasuk anak-anak.
Serangan ini adalah serangan darat terbesar di Gaza utara sejak ofensif Israel dilanjutkan Maret lalu. Tentara Israel juga menyebarkan selebaran yang memerintahkan evakuasi warga, memicu kepanikan di antara keluarga yang telah berulang kali mengungsi. “Kami bahkan pergi tanpa alas kaki,” ujar Sana Marouf, yang melarikan diri dengan gerobak keledai.
Sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 53.000 warga Palestina dilaporkan terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Sumber:
https://www.bbc.com/news/articles/crr704wwklgo







