Pada 1993, Majelis Umum PBB memutuskan dalam sebuah resolusi bahwa tanggal 15 Mei ditetapkan sebagai Hari Keluarga Internasional dan diperingati setiap tahun. Tahun ini, tema Hari Keluarga Internasional adalah: “Kebijakan Berorientasi Keluarga untuk Pembangunan Berkelanjutan: Menuju KTT Dunia Kedua untuk Pembangunan Sosial”. PBB menyebutkan bahwa Hari Keluarga Internasional merupakan kesempatan untuk mempromosikan kesadaran akan isu-isu yang berkaitan dengan keluarga dan untuk meningkatkan pengetahuan tentang proses sosial, ekonomi dan demografis yang mempengaruhi keluarga.
Ketika dunia memperingati Hari Keluarga Internasional setiap tanggal 15 Mei, warga Palestina justru mengingat tanggal tersebut sebagai tragedi yang menyakitkan. Pada tanggal 15 Mei 1948, Israel merampas 774 kota dan desa Palestina, menghancurkan 531 kota dan desa Palestina, mengusir 750.000 warga Palestina dari rumah-rumah mereka. Tragedi tersebut dikenal dengan sebutan Nakba, malapetaka yang menimpa ratusan ribu warga Palestina. Banyak keluarga kehilangan orang-orang terkasih mereka, baik karena pembantaian maupun karena terpisah-pisah ketika pengusiran terjadi, sedangkan yang masih bertahan hidup berubah status menjadi pengungsi, baik di diaspora maupun di tanah air mereka sendiri.
Hari Keluarga Internasional dan Nakba yang jatuh pada hari yang sama seakan menjadi peringatan bagi dunia untuk membuka mata akan kondisi keluarga-keluarga Palestina yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel, terutama akibat genosida Israel di Jalur Gaza yang sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun. Menurut jurnal medis The Lancet, untuk setiap kematian langsung yang disebabkan oleh serangan militer di Gaza, akan ada sekitar tiga kematian tidak langsung akibat kelaparan, penyakit, dan runtuhnya layanan kesehatan. Hingga saat ini, genosida di Gaza telah menghapus 2.200 keluarga Gaza dari catatan registrasi sipil, dan jumlahnya terancam akan terus bertambah jika dunia tidak menghentikan kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel. Di tengah genosida, 15 Mei tahun ini hadir dengan dualisme peringatan hari besar, sebab dunia menyerukan kepedulian akan isu-isu keluarga, namun secara bersamaan juga turut “menonton” genosida yang nyata terhadap keluarga-keluarga Palestina, terutama di Jalur Gaza.
“Apakah Darah Orang Palestina Begitu Murah?”

Pada usia 10 tahun, seorang anak Gaza bernama Noah al-Saqa bermimpi menjadi arsitek untuk membantu membangun kembali Jalur Gaza yang hancur akibat genosida. Menjelang ulang tahunnya pada tanggal 6 Mei, Noah terus meminta orang tuanya untuk mempersiapkan perayaan hari lahirnya tersebut. Akan tetapi seluruh pasar di Gaza telah kosong dan tidak ada bahan untuk kue atau permen yang tersedia karena sejak 2 Maret, tidak ada makanan, barang, atau bantuan kemanusiaan yang diizinkan oleh Israel untuk masuk ke Gaza.
Akan tetapi, ibu Noah, Faten (38), melakukan segala cara untuk mewujudkan impian putranya. Faten mencari bahan makanan di kios-kios pasar selama berhari-hari sampai dia berhasil menemukan tepung putih, gula, baking powder dan telur untuk membuat sepotong kue sederhana pada perayaan ulang tahun putranya.
“Dia mengundang semua sepupunya, bibi, paman, dan teman-temannya dari lingkungan kami untuk merayakannya,” kata ayah Noah, Daoud al-Saqa (43). “Meskipun kami hanya memiliki sedikit yang bisa dirayakan karena genosida ini, sukacita yang ia rasakan turut memenuhi kami dengan kebahagiaan yang luar biasa.”
Karena tak ada yang bisa diberikan oleh sang ayah sebagai hadiah, Daoud akhirnya menawarkan Noah 20 shekel (sekitar delapan dolar), dan mengatakan kepada Noah bahwa dia bisa membeli apa pun yang dia suka. “Hadiahnya adalah bola sepak dan 170 shekel yang dikumpulkan dari bibi dan pamannya. Dia ingin mengumpulkan uang itu untuk membeli sepeda,” kata ayahnya sambil menahan air mata. “Aku memeluk dan menciumnya, tidak pernah membayangkan itu akan menjadi momen kebersamaan yang terakhir kalinya.”
Malam sebelum hari ulang tahunnya, Noah sangat gembira. Dia tidak bisa tidur malam itu karena kegembiraan dan menolak untuk mengganti pakaian ulang tahunnya. Keesokan harinya, Noah meminta makanan kepada ibunya. Ibunya mengatakan bahwa satu-satunya pilihan adalah daging kaleng, kemudian Noah mengambil 20 shekel dari uang ulang tahunnya dan mengatakan dia akan bermain sepak bola dengan teman-temannya dan membeli makanan ringan dari pasar terdekat.
Sekitar pukul 3 sore, keluarga Noah mendapatkan kabar bahwa dua serangan udara Israel menghantam daerah tempat tinggal mereka, menargetkan restoran Thailand di lingkungan Rimal, utara Kota Gaza, dan pasar yang berdekatan dengan restoran itu. Pasar itu adalah tempat tujuan Noah. Keluarganya bergegas mencari Noah, dan ketika tidak menemukan Noah di lokasi, mereka segera berlari ke RS al-Shifa. Di sana, putra mereka tergeletak di tanah dalam genangan darah, tidak bergerak.
Seperti semua anak di Gaza, Noah kecil juga takut dengan bom. Setiap kali dia mendengar ledakan, dia akan lari ke ayahnya, memeluknya dengan erat, dan berteriak ketakutan. Noah sering bertanya kepada ayahnya apakah ada tempat di dunia tanpa pengeboman, apakah mereka bisa pergi ke sana, dan kapan genosida ini akan berakhir.
Noah adalah satu di antara 52.908 warga Gaza yang menjadi korban genosida Israel, termasuk lebih dari 17.000 anak-anak. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Noah berharap pelukan ayah akan melindunginya dan belaian dari ibu akan menghangatkannya. Tapi sayangnya tidak, meski pelukan dan belaian ibu tetap ia dapatkan, namun tubuhnya telah menjadi kaku, dingin, dan mati rasa. Maka di Gaza, pelukan dan ungkapan rasa sayang lainnya sungguh berarti, sebab bisa jadi itu adalah yang terakhir kali.
Di Gaza, pengeboman tidak akan memberi belas kasihan pada siapa pun. Itulah sebabnya banyak keluarga di Gaza lebih memilih untuk tetap tinggal bersama dengan keluarga mereka, meski harus berdesakan di tempat penampungan atau tenda pengungsian. Setidaknya mereka akan wafat bersama jikalau bom-bom itu dijatuhkan ke daerah mereka; tidak ada yang meninggalkan dan tidak ada yang ditinggalkan. Warga Gaza lebih memilih untuk syahid dengan terhormat di tanah mereka sendiri, meski itu berarti mereka harus menghadapi penderitaan yang bertubi-tubi.
Apa yang dilakukan oleh Israel di Gaza merupakan pembersihan etnis yang sangat jelas. Sebanyak 21 perempuan dibunuh setiap harinya, atau satu perempuan setiap jamnya, dengan tujuan untuk memutus generasi keluarga Palestina. Saat ini, tercatat ada 12.400 korban perempuan di Gaza, kebanyakan adalah mereka yang masih dalam usia subur. Ini semakin memperjelas bahwa Nakba tidak hanya terjadi pada 1948, tetapi masih terus berlangsung karena Israel masih melakukan segala cara untuk mewujudkan pembersihan etnis dan mengusir penduduk asli Palestina dari tanah mereka.
“Kakaknya Noah, Adam (12), terus memegang bola yang dibawanya sebagai hadiah untuk Noah. Ia menangis dan bertanya kepada saya, ‘Siapa yang akan bermain dengan saya sekarang?’ Saya tidak punya jawaban,” kata ayah Noah. “Mengapa dunia diam saat anak-anak kami dibunuh? Anak saya tidak bersalah. Ayah macam apa yang bisa menahan rasa sakit yang membakar di dada? Apa kejahatan anakku? Apakah karena kami orang Palestina dan tinggal di Gaza kemudian darah kami menjadi begitu murah?”
Runtuhnya Sistem Kesehatan, Keluarga Dipaksa Menyaksikan Kematian Secara Perlahan

Maram Manaa, seorang ibu dari Gaza, mengatakan bahwa putrinya, Mayan (3), telah berjuang dengan penyakit asma selama hampir dua tahun. Namun, kondisinya terus “memburuk secara drastis” sejak genosida dimulai pada Oktober 2023. Sekitar seminggu setelah genosida pecah di Gaza, militer Israel mengeluarkan perintah pengusiran, mengatakan kepada penduduk Kota Gaza dan Gaza utara untuk menuju ke selatan Gaza. Beberapa pekan kemudian, Israel menutup wilayah utara sepenuhnya dan mulai menargetkan siapa pun yang mencoba menyeberang dari selatan atau tengah. Ini membuat pasien yang tak terhitung jumlahnya kehilangan akses untuk pergi ke dokter, rumah sakit, dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
Berjalannya waktu telah membuat penyakit asma yang diderita Mayan semakin memburuk. Dia mulai kehilangan kesadaran, dan busa mulai keluar dari mulutnya. “Saya harus buru-buru membawanya ke rumah sakit terdekat. Kami tiba pada saat terakhir, tepat pada waktunya untuk memakai ventilator,” kata ibunya.
“Sebagai seorang ibu, saya merasa tidak berdaya di tengah kesulitan genosida,\ karena saya tidak punya pilihan selain nebuliser, antibiotik, dan obat penghilang rasa sakit sementara,” kata Manaa. “Bahkan antibiotik dan nebuliser yang digunakan untuk membantunya sekarang hampir tidak bekerja. Kondisinya terus memburuk.”
Putus asa mencari solusi, Manaa baru-baru ini beralih ke rumah sakit lapangan Amerika di Deir al-Balah, di Gaza tengah, berharap menemukan perawatan yang tepat untuk kondisi putrinya yang memburuk. “Mereka memberikan obat asma yang diperuntukkan bagi kelompok usia yang berbeda, hanya karena tidak ada alternatif,” katanya. Ketika dia meminta obat asma, dokter kembali dengan sebuah alat buatan tangan yang dibuat dari botol air plastik.
“Saya terkejut. Saya bertanya, ‘Apa ini?’ Ketika mereka mengatakan kepada saya bahwa itu adalah pengganti perangkat perawatan asma yang sebenarnya, saya berharap tanah menelan saya. Putri saya, seorang pasien asma, harus bernapas melalui botol untuk tetap hidup. Di mana hak-hak kami sebagai manusia? Di mana hak anak ini untuk perawatan dan keamanan?”
Manaa kemudian meminta rujukan medis untuk melanjutkan perawatan putrinya di luar negeri. Tetapi dengan sejumlah besar pasien dan korban terluka yang dianggap “lebih mendesak” daripada Mayan, dokter tidak dapat menambahkannya ke daftar evakuasi medis yang sudah panjang. “Ini bukan gambaran masa kecil yang seharusnya. Orang tua mana yang mampu menyaksikan anak-anak mereka tersiksa seperti ini?”
Saat ini, Israel telah membatasi akses warga Palestina ke 70 persen wilayah Gaza, menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA). Israel mendeklarasikan sebagian besar wilayah Gaza sebagai zona terlarang atau memerintahkan pengungsian paksa. Di selatan Gaza, hampir seluruh wilayah Rafah menjadi zona terlarang sejak akhir Maret. Di utara, hampir seluruh Kota Gaza telah diperintahkan untuk dikosongkan, menyisakan kantong kecil di barat laut. Pengerucutan wilayah ini tentunya berdampak juga pada akses terhadap fasilitas kesehatan, sebab kini warga Palestina semakin sulit untuk menjangkau rumah sakit di kawasan “zona terlarang”.
Fasilitas-fasilitas kesehatan di Gaza juga telah kehilangan daya untuk dapat melanjutkan layanan dan memberikan perawatan bagi warga Gaza. Sebanyak 36 rumah sakit sudah tidak bisa memberikan pelayanan medis, sedangkan yang masih beroperasi kewalahan karena ketiadaan alat-alat medis dan banyaknya tenaga kesehatan yang menjadi korban. Pasokan air dan sanitasi yang tersedia untuk perawatan kesehatan sangatlah terbatas, ditambah dengan tidak adanya obat bius dan pisau bedah membuat banyak korban –yang sebenarnya bisa diobati– menjadi tidak tertolong.
Sebanyak 85% infrastruktur air dan sanitasi telah rusak atau hancur di Gaza. Ini menjadi penyebab lebih dari 2,1 juta kasus penyakit menular yang disebabkan oleh pemindahan paksa dan runtuhnya infrastruktur kesehatan Gaza, termasuk 71.338 kasus hepatitis. Banyak keluarga harus menyaksikan orang-orang terkasih mereka meregang nyawa secara perlahan, sebab rumah sakit sudah penuh sesak dan pergi ke luar negeri sangatlah sulit meski pasien sangat membutuhkan perawatan.
Kelaparan Membuat Keluarga Palestina Kehilangan Harapan

Setelah Israel menutup perbatasan Gaza bulan lalu, Ibrahim al-Madhoun berhasil mengumpulkan beberapa kaleng makanan. “Semua orang bergegas ke pasar. Kami biasanya pergi untuk mendapat makanan kaleng – kacang, tuna, beras, biji-bijian – atau makanan yang bertahan lama. Keju dan barang-barang berharga lainnya terlalu mahal dan rusak dengan cepat,” kata ayah Palestina itu kepada Middle East Eye. Tapi persediaan kecil itu habis dengan cepat.
Saat ini, Ibrahim tidak memiliki pilihan selain memberi makan keluarganya sekali sehari dengan manakeesh – roti datar yang ditaburi daun thyme. “Bahkan manakeesh akan segera hilang,” kata pria berusia 46 tahun itu, yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lima anaknya. “Tepung gandum kecil yang tersisa juga telah habis.”
“Saya tidak pernah mengandalkan bantuan internasional sebelum genosida. Saya dulu bekerja sebagai sopir taksi dan menyediakan nafkah untuk keluarga saya,” kata Ibrahim. “Tapi sejak genosida dimulai dan Israel mulai menutup perbatasan dan memberlakukan pembatasan pada barang-barang komersial, ada barang-barang tidak bisa lagi masuk,” jelasnya. “Hari ini, bahkan dengan bantuan kemanusiaan yang dihentikan, organisasi internasional tidak dapat memberikan kebutuhan dasar seperti tepung terigu.”
Pada 1 April 2025, 25 toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia (WFP) di Jalur Gaza ditutup karena kurangnya tepung terigu dan bahan bakar. Saat ini, keluarga-keluarga di Gaza menggunakan kantong tepung terigu terakhir yang mereka terima dari WFP dan mengolahnya menggunakan oven buatan tangan primitif dengan kayu bakar.
“Sebagian besar waktu, kami kelaparan. Akan tetapi, kami tidak bisa makan lebih dari satu kali sehari,” kata Ibrahim. “Apa yang bisa kita makan sekarang adalah roti dengan sedikit thyme – cukup untuk membuat kita tetap hidup, meskipun tidak sehat.” Bulan lalu, ia membawa putra bungsunya yang berusia dua tahun ke klinik PBB untuk memeriksa apakah mereka kekurangan gizi. Di sana, dia mengatakan sangat terkejut ketika mengetahui bahwa anaknya sangat kekurangan gizi.
“Dia tidak terlalu kurus, tetapi para dokter menjelaskan bahwa kekurangan gizi tidak selalu terlihat,” kata Madhoun. “Tubuhnya tidak memiliki vitamin dan protein esensial– hal yang tidak dapat ditemukan dalam makanan kaleng atau roti. Ketika persediaan makanan yang tersisa habis, saya tidak punya rencana B. Kami hanya hidup dengan harapan bahwa bantuan akan diizinkan segera. Ini adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. “
Kelaparan di Gaza telah mencapai tingkat yang sangat mengerikan. Pemerintah Gaza menegaskan bahwa Lebih dari 65.000 anak-anak di Gaza berisiko meninggal karena kekurangan gizi dan kekurangan pangan, sebagai akibat dari penggunaan kelaparan Israel sebagai senjata melawan warga sipil. Israel juga menyerang 66 fasilitas bantuan, termasuk 29 dapur dan 37 pusat bantuan. Selain itu, Israel masih terus menutup penyeberangan dan mencegah masuknya 39.000 truk yang membawa bantuan, bahan bakar, dan obat-obatan, semakin memperparah krisis pangan yang disengaja terhadap warga Gaza.
Seluruh toko roti di Gaza saat ini sudah tidak beroperasi, membuat keluarga-keluarga Palestina menderita kelaparan karena setidaknya hanya bisa makan satu kali dalam sehari, atau bahkan tidak makan sama sekali. World Central Kitchen juga telah mengonfirmasi bahwa mereka tidak bisa melanjutkan layanannya di Gaza. Sebelumnya, WCK masih mampu memasak 133.000 porsi makanan dan memanggang 80.000 roti setiap harinya dari dua dapur utama terakhir. Kini, lebih dari 80% dapur komunitas yang bergantung pada stok WCK juga tak bisa beroperasi, memperburuk penderitaan keluarga Palestina di tengah agresi.
Otoritas Air Palestina (PWA) juga memperingatkan bahwa Jalur Gaza “mati kehausan” karena lebih dari 2,3 juta penduduk kehilangan akses ke jumlah minimum air yang diperlukan untuk bertahan hidup. Ekstraksi air di Gaza telah menurun 70–80% sejak awal genosida. Konsumsi air saat ini telah turun menjadi 3–5 liter per orang per hari — jauh di bawah minimum darurat Organisasi Kesehatan Dunia, yakni 15 liter. Banyak keluarga terpaksa membawa botol atau ember setiap hari atau mencari air demi bisa bertahan hidup pada hari itu. Tak sedikit pula yang memilih untuk menampung air hujan atau meminum air laut karena tak ada pilihan lain untuk memuaskan dahaga mereka.
Satu Nyawa yang Hilang Adalah Segalanya Bagi Keluarga yang Ditinggalkan

Hingga saat ini, ribuan keluarga Palestina yang terusir dari tanah air mereka sejak Nakba masih belum bisa kembali ke rumah mereka, termasuk juga generasi-generasi keturunan mereka. Nakba tahun ini juga terasa lebih pedih, sebab terjadi di tengah-tengah genosida mengerikan yang diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza. Sebanyak 52.908 warga Palestina telah menjadi korban, belum termasuk lebih dari 10.000 warga Palestina yang terkubur di bawah reruntuhan dan nasibnya belum diketahui.
Sejak meluncurkan genosida 19 bulan lalu, Israel telah menjatuhkan 100.000 ton bahan peledak di Jalur Gaza, melakukan lebih dari 12.000 pembantaian, menghapus 2.200 keluarga dan 6.350 orang dari registrasi sipil. Israel juga telah mencuri 2.300 jenazah dari kuburan Gaza dan membuat tujuh kuburan massal di dalam rumah sakit di Gaza. Sejauh ini, sebanyak 529 jenazah elah ditemukan dari berbagai kuburan massal, namun banyak keluarga yang masih belum bisa mengidentifikasi keluarga mereka karena jasad yang sudah sulit untuk dikenali.
Setiap harinya, akan ada keluarga yang melakukan salat jenazah dan memakamkan anggota keluarga mereka. Setiap nyawa yang hilang akibat genosida bukanlah sekadar angka, melainkan seseorang yang berharga bagi keluarga mereka. Pada tanggal 15 Mei ini, perlu diingat bahwa tujuan yang diharapkan dari peringatan Hari Keluarga Internasional tidak akan bisa tercapai selama genosida dan penjajahan masih dibiarkan tetap berlangsung, dan dunia hanya menyaksikannya dengan kebisuan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
https://www.un.org/en/observances/international-day-of-families
https://english.wafa.ps/Pages/Details/157272
https://www.aljazeera.com/news/2025/5/9/gaza-could-experience-another-nakba-warns-un-committee
https://www.aljazeera.com/news/2025/5/7/how-israels-plan-for-gaza-could-turbocharge-ethnic-cleansing
https://www.unrwausa.org/voices-of-unrwa/gaza-my-true-home
https://www.middleeasteye.net/news/palestine-gaza-families-starve-under-israel-aid-shutdown
https://www.middleeasteye.net/opinion/gaza-genocide-remember-moment-shook-you-caring
https://www.middleeasteye.net/news/gaza-war-son-stolen-bombing-never-stops-noah-tragedy








