Sebuah organisasi kemanusiaan baru yang didukung oleh Amerika Serikat dan dirancang untuk mengambil alih pengiriman bantuan kepada warga sipil kelaparan di Gaza menyatakan pada Rabu (15/5) bahwa mereka memperkirakan akan mulai beroperasi sebelum akhir bulan ini, setelah mendapatkan apa yang mereka sebut sebagai “kesepakatan penting” dari pejabat Israel.
Dalam pernyataannya, lembaga yang bernama Gaza Humanitarian Foundation menyebutkan sejumlah veteran militer AS, mantan koordinator kemanusiaan, dan kontraktor keamanan akan memimpin upaya distribusi. Banyak pihak dalam komunitas kemanusiaan meyakini bahwa kelompok ini dimaksudkan untuk menggantikan sistem distribusi bantuan yang selama ini dijalankan oleh PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional lainnya.
Namun, lembaga ini tidak menjawab berbagai kritik dan pertanyaan utama dari komunitas internasional, termasuk siapa yang akan mendanai kegiatan mereka dan sejauh mana keterlibatan pemerintah atau militer — termasuk AS, Israel, atau lainnya — dalam mengendalikan distribusi bantuan bagi warga sipil Palestina.
Dalam wawancara pada Rabu (14/05), Tom Fletcher, kepala urusan kemanusiaan PBB, menyatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa proposal yang didukung AS itu “jauh dari memenuhi” ketentuan hukum kemanusiaan internasional.
“Itulah mengapa kita harus tetap pada rencana yang lebih baik, yaitu rencana A kami: cukup biarkan kami masuk. Kami bisa memastikan bahwa bantuan ini tidak akan sampai ke Hamas,” kata Fletcher, merujuk pada klaim Israel bahwa kelompok Palestina tersebut menyalahgunakan bantuan — sesuatu yang sepenuhnya dibantah oleh Hamas.
“Kami memiliki prosedur kami sendiri. Kami lebih peduli daripada siapa pun untuk memastikan bahwa bantuan ini sampai kepada anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang paling membutuhkan,” tambahnya.
Israel telah memblokir masuknya makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan semua jenis bantuan ke Gaza selama berpekan-pekan, memperburuk krisis kemanusiaan yang menimpa 2,3 juta warga Palestina. Israel menyatakan tidak akan mengizinkan masuknya kembali bantuan hingga tersedia sistem yang memungkinkan kontrol penuh atas distribusinya.
PBB dan banyak organisasi kemanusiaan menolak upaya Israel untuk mengendalikan distribusi bantuan, dengan alasan bahwa tidak mungkin sebuah organisasi baru mampu memenuhi kebutuhan kemanusiaan warga Gaza setelah 19 bulan mengalami kelaparan dan agresi.
Kelompok-kelompok bantuan juga khawatir bahwa upaya tersebut melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dasar, yaitu independensi, netralitas, dan ketidakberpihakan.
Dalam sebuah pernyataan, direktur eksekutif organisasi kemanusiaan AS, Jake Wood — seorang veteran militer AS dan pendiri lembaga bantuan bencana Team Rubicon — mengatakan bahwa komitmen untuk memulai operasi dalam beberapa pekan mendatang merupakan hasil dari diskusi dengan pejabat Israel.
Wood mengindikasikan bahwa pihak Israel telah setuju untuk mengizinkan lembaga tersebut mendistribusikan bantuan melalui sistem yang sudah ada di Gaza untuk sementara waktu, sembari membangun titik-titik distribusi baru sebagaimana yang diminta Israel.
Israel juga dikatakan telah menyetujui pembangunan lebih banyak lokasi distribusi di seluruh Gaza, serta mencari cara untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang mengalami malnutrisi, terluka, lanjut usia, atau anak-anak yang tidak mampu melakukan perjalanan jauh ke lokasi bantuan.
Lembaga tersebut menyatakan sedang berada di tahap akhir pengumpulan bantuan yang cukup untuk menyediakan 300 juta porsi makanan dalam 90 hari pertama operasi. Misi Israel untuk PBB belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pernyataan lembaga AS tersebut.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/ngo-says-it-will-start-aid-operations-gaza-within-weeks
https://apnews.com/article/gaza-humanitarian-aid-usa-israel-food-d928a2bb75902bed8301ea3b95695d3f







