Tingkat malnutrisi di Gaza terus meningkat, sementara stok pengobatan darurat semakin menipis. Seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kelaparan yang melanda dapat meninggalkan dampak jangka panjang bagi “seluruh generasi.”
Rik Peeperkorn, perwakilan WHO untuk Wilayah Pendudukan Palestina, melaporkan bahwa lebih dari 20% anak-anak yang diperiksa di sebuah rumah sakit di Gaza utara mengalami malnutrisi akut. “Saya melihat anak berusia lima tahun yang tampak seperti anak usia dua setengah tahun,” ujarnya dalam konferensi pers dari Deir al-Balah.
Ia menambahkan, “Tanpa makanan bergizi, air bersih, dan akses layanan kesehatan, satu generasi penuh akan terdampak secara permanen,” termasuk risiko stunting dan gangguan perkembangan kognitif.
Blokade Israel sejak awal Maret—bersamaan dengan dimulainya kembali serangan militer besar-besaran—telah menghentikan pasokan bantuan ke Gaza. Menurut WHO, saat ini mereka hanya memiliki persediaan cukup untuk menangani 500 anak dengan malnutrisi akut, jumlah yang jauh dari kebutuhan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 55 anak telah meninggal akibat kondisi ini.
Selain kelaparan, anak-anak di Gaza kini rentan terhadap penyakit seperti gastroenteritis dan pneumonia. “Biasanya orang tidak mati karena kelaparan langsung, tapi karena penyakit yang menyertainya akibat lemahnya kekebalan tubuh,” kata Peeperkorn.
Sementara itu, Komisioner Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini menyatakan bahwa Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang dengan cara menghalangi akses makanan dan bantuan kepada warga sipil. WHO pun mengkritik rencana distribusi bantuan Israel yang disebut “sangat tidak memadai” untuk menjawab kebutuhan mendesak di lapangan.
https://www.#/20250513-who-warns-of-permanent-impact-of-hunger-on-a-generation-of-gazans/








