Rumah Sakit Kuwait di Rafah, Gaza Selatan, memperingatkan bahwa mereka mungkin terpaksa menghentikan layanannya dalam waktu dekat karena pasokan medis yang sangat menipis dan diperkirakan hanya cukup untuk sepekan ke depan.
“Akibat agresi Israel yang terus berlangsung dan penutupan perlintasan, sistem kesehatan berada di ambang kehancuran,” demikian pernyataan rumah sakit pada Sabtu (4/5).
Lebih dari 75% obat-obatan esensial dilaporkan sudah tidak tersedia di gudang mereka, sehingga sangat menghambat kemampuan tenaga medis dalam memberikan perawatan kritis, termasuk layanan perawatan intensif dan pengobatan penyakit kronis. Jika tidak ada tindakan segera untuk mengirimkan bantuan medis, sebagian besar layanan kesehatan diperkirakan akan lumpuh total.
Pihak rumah sakit mendesak organisasi kemanusiaan internasional untuk segera campur tangan demi mencegah bencana kesehatan besar di Gaza. Peringatan ini disampaikan di tengah situasi kemanusiaan yang terus memburuk. Sejak 2 Maret, Israel telah memblokade seluruh bantuan untuk memasuki Gaza, termasuk obat-obatan, makanan, dan barang kebutuhan lainnya.
Hingga saat ini, hampir 52.500 warga Palestina telah terbunuh sejak agresi brutal Israel dimulai pada Oktober 2023, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Sebagai respons terhadap kejahatan yang terjadi, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Selain itu, Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait serangannya di wilayah tersebut.
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/medical-supplies-will-only-last-1-more-week-kuwait-hospital-in-rafah-/3556013https://www.#/20250503-un-urges-independent-probe-into-gaza-aid-ship-attack-calls-for-lifting-of-aid-blockade/







